JAKARTA, ifakta.co – Pembalap Ducati Francesco Bagnaia mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah kembali mengalami kesulitan pada balapan MotoGP Malaysia 2026 di Sirkuit Sepang, Minggu (1/11/2026). Ia mengaku sudah tidak sabar menunggu musim ini berakhir.
Bagnaia menyelesaikan balapan utama di posisi ke-13 dan hanya menambah tiga poin. Hasil tersebut berbeda dari Sprint Race sehari sebelumnya, ketika ia berhasil finis keenam.
Bagnaia menjelaskan, perubahan kondisi lintasan turut memengaruhi performanya. Hujan saat Sprint membuat motornya lebih mudah dikendalikan dibandingkan saat balapan utama yang berlangsung dalam kondisi kering.
“Kemarin balapan berjalan persis seperti yang saya perkirakan, karena sudah tahu bagaimana jalannya. Kemarin hujan menyelamatkan saya, memungkinkan saya untuk memacu motor lebih keras daripada yang seharusnya bisa saya lakukan. Faktanya, hujan menguntungkan saya kemarin; kalau tidak, saya mungkin tetap finis di posisi belakang,” ujar Bagnaia.
Persoalan utama yang dirasakan pembalap Italia itu berkaitan dengan daya cengkeram ban. Ia menyebut performa ban belakang menurun drastis setelah lima putaran, sehingga sulit mempertahankan kecepatan di tikungan.
“Saya tidak punya grip. Hari ini, pada beberapa lap pertama, saya berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Namun, setelah lap kelima, saya sudah tidak punya ban belakang lagi. Bahkan pada lap terakhir, saya tidak bisa menyentuhkan lutut ke aspal di tikungan-tikungan kanan,” katanya.
Situasi ini membuat Bagnaia heran. Selama ini, ia dikenal mampu mengelola pemakaian ban dengan baik, tetapi kemampuan tersebut tidak cukup untuk mengatasi persoalan yang kembali muncul di Sepang.
“Aneh rasanya: selama ini saya selalu bagus dalam mengelola ban, dan sekarang sepertinya saya tidak mampu lagi melakukannya. Jadi, saya harus belajar lagi dari awal,” lanjutnya.
Bagnaia mengakui sempat merasa optimistis pada awal akhir pekan balapan, namun kemudian menyadari bahwa persoalan motornya lebih besar daripada yang diperkirakan.
“Saya meremehkan masalah pada motor saya. Saya menghitung menit sampai musim ini berakhir,” ucapnya.
Menurut Bagnaia, waktu lap terakhir yang dicatatnya menjadi gambaran jelas tentang keterbatasan performa yang dialami. Ia membukukan waktu dua menit 5,1 detik pada putaran terakhir.
“Saya merasa kurang lebih seperti yang saya perkirakan. Kemarin saya beruntung karena hujan mulai turun. Namun, hari ini, sejak awal balapan, saya menyadari bahwa batas kemampuan saya berkaitan dengan grip. Saya menyelesaikan lap terakhir dalam waktu 2 menit 5,1 detik. Bagi saya, itu luar biasa buruk jika mempertimbangkan apa yang saya tahu bisa saya lakukan di trek ini. Namun, memang begitulah situasinya dan kami harus menerimanya,” jelas Bagnaia.
Saat ditanya mengenai perbedaan yang dirasakannya dibandingkan penampilan di Sepang pada tahun-tahun sebelumnya, Bagnaia menjawab singkat.
“Motornya.”
Ia juga menyinggung komponen atau solusi yang pernah membantunya menemukan ritme saat balapan di Motegi, Jepang, pada musim sebelumnya. Namun, Bagnaia tidak bersedia mengungkapkan rincian teknis hal tersebut.
“Di Jepang tahun lalu, di Motegi, saya bisa menggunakan sesuatu yang sekarang sudah tidak ada lagi, dan saya bisa kembali menemukan ritme. Bahkan setelah Motegi, hal itu juga sudah tidak ada. Apa itu? Saya tidak ingin membahas detailnya,” ungkap Bagnaia.
Meski kondisi motor belum sesuai harapannya, Bagnaia mengakui tim telah memenuhi hampir seluruh permintaannya selama musim berlangsung. Namun, ia juga menyadari terdapat beberapa hal yang tidak mungkin diwujudkan.
“Jelas, kami sudah mendapatkan hampir semua yang kami minta, dan itu positif. Ada beberapa hal yang ingin kami capai, tetapi tidak akan pernah terwujud. Namun, memang begitulah adanya,” tuturnya.
(avd/lex)





























