YOGYA, ifakta.co – Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 dipastikan kembali digelar setelah sempat dibatalkan pada tahun 2025. Tahun ini, Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan konsep yang lebih meriah sekaligus lebih bermakna.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa WJNC 2026 tidak boleh hanya menjadi tontonan. Sebaliknya, acara ini harus mampu memberikan tuntunan, terutama dalam menyampaikan pesan tentang lingkungan dan pengelolaan sampah.
“Wayang itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan tatanan. Kalau hanya menghadirkan penonton tanpa ada hikmah, maka kita baru berhasil di aspek tontonan saja,” katanya, Minggu (12/4), seperti dilaporkan RRI.
Iklan
Oleh karena itu, penyelenggara akan memanfaatkan kekuatan wayang sebagai media budaya yang sarat nilai. Selain menampilkan visual karnaval, panitia juga akan menyisipkan pesan-pesan edukatif yang dapat membentuk kesadaran masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan.
“Harapannya, setelah menyaksikan, masyarakat tidak hanya terhibur, tapi juga sadar pentingnya pengelolaan sampah, kebersihan, dan keteraturan,” ujarnya.
Tantangan Relevansi Budaya
Di sisi lain, Hasto juga menyoroti tantangan dalam mengemas wayang agar tetap relevan bagi generasi muda. Ia meminta para kreator untuk mampu menerjemahkan nilai-nilai budaya ke dalam bahasa yang lebih kontekstual.
“PR besarnya bagaimana nilai-nilai budaya ini bisa diterjemahkan dan diadopsi oleh generasi sekarang. Jangan sampai terputus,” katanya.
Konsep Baru WJNC Fest Selama Sepekan
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menjelaskan bahwa WJNC 2026 akan hadir dengan konsep baru. Tidak seperti sebelumnya, acara ini tidak hanya berlangsung dalam satu malam puncak.
Sebaliknya, pemerintah akan menggelar rangkaian kegiatan selama sepekan melalui konsep “WJNC Fest”. Dengan konsep ini, berbagai sektor akan terlibat secara aktif.
Selain sektor pariwisata, kegiatan ini juga melibatkan perdagangan, perindustrian, koperasi, hingga UMKM. Oleh sebab itu, perputaran ekonomi diharapkan meningkat secara signifikan.
“Dengan konsep sepekan, wisatawan tidak hanya datang saat puncak acara, tapi bisa tinggal lebih lama. Dampaknya tidak hanya ke sektor pariwisata, tapi juga ke UMKM dan pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Lucia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini akan memperkuat posisi WJNC sebagai event yang tidak hanya berfokus pada budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi.
“Kami berharap, kolaborasi ini bisa menggerakkan ekonomi secara menyeluruh, sekaligus memperkuat posisi WJNC sebagai event yang tidak hanya budaya, tetapi juga berdampak ekonomi,” pungkasnya.
Dengan konsep baru tersebut, WJNC 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan edukasi dan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Yogyakarta.
(naf/kho)


