JAKARTA, ifakta.co – Kualitas udara di Jakarta kembali memburuk seiring normalnya aktivitas masyarakat setelah libur panjang Lebaran 2026. Berdasarkan pemantauan laman IQAir pada Selasa pagi, kualitas udara ibu kota masuk kategori tidak sehat.

Data Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) yang dicatat sekitar pukul 06.30 WIB menunjukkan Jakarta berada di posisi ke-10 sebagai kota dengan tingkat polusi udara tidak sehat. Nilai AQI tercatat di angka 127, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 46 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia, khususnya kelompok rentan, serta dapat memengaruhi hewan sensitif, tumbuhan, hingga nilai estetika lingkungan. Masyarakat pun diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruang dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Iklan

Sebagai perbandingan, kualitas udara dengan kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0–50, sementara kategori sedang berada di angka 51–100. Adapun kategori sangat tidak sehat berada di kisaran 200–299, dan kategori berbahaya pada rentang 300–500 yang dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi.

Kemacetan Pascamudik Picu Peningkatan Polusi

Secara global, kota dengan kualitas udara terburuk pada hari yang sama ditempati oleh Delhi dengan AQI 198, disusul Chiang Mai di angka 190, Kinshasa dengan 177, Kathmandu sebesar 166, serta Tashkent di posisi kelima dengan AQI 163.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta telah mengoperasikan sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi melalui 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta. Data tersebut dihimpun dari SPKU milik DLH, BMKG, World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Vital Strategies.

Meningkatnya polusi udara juga sejalan dengan kembalinya kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama Jakarta. Pada hari pertama masuk kerja, Senin (30/3), kemacetan panjang terpantau di Jalan Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur, hingga mengarah ke Jalan Raya Casablanca, Tebet, Jakarta Selatan.

Pantauan di lapangan menunjukkan ratusan kendaraan memadati jalur tersebut sejak pagi hari dengan kondisi lalu lintas padat merayap. Kendaraan pribadi dan sepeda motor mendominasi arus jalan, diperparah oleh lonjakan kendaraan dari arah Bekasi menuju kawasan perkantoran di Tebet dan Mega Kuningan.

Ruas tersebut memang menjadi salah satu akses utama pekerja dari wilayah penyangga menuju pusat bisnis ibu kota, sehingga peningkatan volume kendaraan pascalibur Lebaran dinilai turut berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara Jakarta.

(antara/wli)