BEKASI, Ifakta.co – Di pinggiran timur Jakarta berdiri sebuah “gunung” yang tidak pernah dicatat dalam buku geografi: gunung yang dibangun bukan oleh magma bumi, melainkan oleh konsumsi manusia. Gunung itu bernama TPST Bantargebang tempat di mana hampir seluruh sampah ibu kota berakhir.
Setiap hari, sekitar 6.500 hingga 7.000 ton sampah dari Jakarta diangkut ke kawasan seluas sekitar 110 hektare ini. Truk-truk besar datang tanpa henti, menumpahkan sisa kehidupan kota : plastik, sisa makanan, kertas, hingga barang elektronik yang tak lagi dipakai. 
Jakarta sendiri menghasilkan lebih dari 8.000 ton sampah per hari, dan sekitar 74 persen di antaranya berakhir di Bantargebang. 
Iklan
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret dari pola hidup urban yang menghasilkan limbah lebih cepat daripada kemampuan kota untuk mengelolanya.
Ketika Gunung Sampah Menjadi Ancaman Nyata
Tragedi terbaru memperlihatkan betapa rapuhnya sistem yang bergantung pada satu tempat pembuangan raksasa. Setelah hujan deras mengguyur kawasan itu, tumpukan sampah runtuh dan menewaskan tujuh orang, termasuk sopir truk dan pedagang kecil di sekitar lokasi. 
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan alam. Ia adalah peringatan keras bahwa sistem pengelolaan sampah Jakarta telah lama berada di ambang krisis.
Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa kondisi Bantargebang mencerminkan persoalan struktural yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Kondisi di Bantar Gebang mencerminkan masalah mendasar dalam pengelolaan sampah Jakarta,” ujarnya setelah meninjau lokasi. 
Gunungan sampah di kawasan ini bahkan diperkirakan telah mencapai puluhan juta ton, setara gedung bertingkat belasan lantai. 
Dengan kata lain, Bantargebang bukan lagi sekadar tempat pembuangan. Ia telah berubah menjadi arsip material dari peradaban kota.
Ekonomi Tersembunyi di Balik Sampah
Namun di balik bau menyengat dan asap landfill, Bantargebang juga menyimpan ekonomi informal yang kompleks. Ribuan pemulung menggantungkan hidup dari sampah yang dibuang kota.
Peneliti dari Greenpeace Indonesia, Mutiara Shafa, menyebut para pemulung justru menjadi aktor penting dalam pengurangan sampah.
Setiap pemulung mampu mengumpulkan sekitar 1–2 kuintal sampah yang masih bernilai setiap hari, yang jika dijumlahkan bisa mengurangi ratusan ton limbah dari gunungan tersebut. 
Ironisnya, mereka yang berperan dalam “daur ulang alami” kota sering hidup dalam kondisi yang jauh dari layak.
Bantar Gebang menjadi paradoks:
di satu sisi ia adalah simbol kegagalan pengelolaan lingkungan,
di sisi lain ia adalah sumber kehidupan bagi masyarakat marginal.
Ketergantungan Kota pada Satu Lubang Raksasa
Persoalan paling mendasar dari Bantargebang adalah ketergantungan total Jakarta terhadap satu lokasi pembuangan.
Selama hampir empat dekade sejak mulai beroperasi pada 1989, sistem pengelolaan sampah ibu kota masih berpusat pada konsep lama: kumpulkan, angkut, lalu buang. 
Padahal sebagian besar sampah yang berakhir di sana sebenarnya masih bisa diolah.
Data pemerintah menunjukkan komposisi terbesar sampah di Bantargebang adalah sisa makanan (sekitar 43 persen) dan plastik (sekitar 28 persen). 
Artinya, jika pengolahan organik dan daur ulang dilakukan sejak dari rumah tangga, volume sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan secara drastis.
Namun kebijakan pengurangan sampah dari sumber masih berjalan lambat.
Harapan Teknologi, Tantangan Realitas
Pemerintah kini berupaya mengurangi beban Bantargebang melalui proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang akan mengubah limbah menjadi energi.
Rencana ini menargetkan pembangunan beberapa unit fasilitas yang masing-masing mampu mengolah 2.500–3.000 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan listrik. 
Namun teknologi bukanlah solusi tunggal. Tanpa perubahan perilaku masyarakat dan sistem pemilahan sejak awal, fasilitas sebesar apa pun pada akhirnya akan menghadapi masalah yang sama.
Bantar Gebang sebagai Cermin Moral Kota
Pada akhirnya, Bantargebang bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah cermin moral kota.
Sampah adalah sesuatu yang ingin kita singkirkan secepat mungkin dari pandangan. Tetapi setiap kantong plastik yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang ia hanya berpindah tempat, menuju pinggiran kota yang jarang kita lihat.
Bantar Gebang berdiri sebagai pengingat bahwa modernitas kota selalu memiliki “bayangan” : tempat di mana sisa-sisa kehidupan urban dikumpulkan.
Selama kota masih memproduksi sampah lebih cepat daripada kemampuannya mengelola, gunung itu akan terus tumbuh.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ia tidak hanya menjadi gunung sampah
tetapi monumen kegagalan kita mengelola peradaban sendiri.
(FA/FZA)



