JAKARTA, ifakta.co – Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) kembali meluluskan doktor baru melalui Sidang Promosi Doktor atas nama Dr. drg. Likky Tiara Alphianti, yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dalam disertasinya, ia meneliti potensi tanaman hias Cordyline fruticosa atau yang dikenal sebagai hanjuang sebagai bahan alami untuk membantu mencegah karies gigi pada anak usia dini.

Penelitian tersebut berfokus pada Early Childhood Caries (ECC), yaitu karies gigi yang terjadi pada anak usia dini.

Iklan

Pada kondisi yang lebih berat, karies dapat berkembang menjadi Severe Early Childhood Caries (S-ECC), bentuk karies yang sangat agresif karena mampu menyebabkan kerusakan gigi secara cepat dan luas. Selain menimbulkan rasa sakit, kondisi ini juga dapat memengaruhi pola makan, kualitas hidup, hingga tumbuh kembang anak.

Permasalahan karies gigi pada anak masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Sejumlah penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak di Indonesia masih sangat tinggi, yakni berkisar 76–90 persen, dengan kelompok usia 5–9 tahun sebagai kelompok yang paling terdampak.

Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kebiasaan menjaga kebersihan gigi yang belum optimal, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta rendahnya akses dan kebiasaan masyarakat dalam mencari layanan kesehatan gigi.

Selama ini, berbagai bahan pencegahan karies umumnya menggunakan senyawa sintetis. Walaupun efektif, penggunaan bahan tersebut yang tidak tepat tanpa pengawasan tenaga kesehatan gigi berpotensi menimbulkan efek samping.

Selain itu, biaya perawatan preventif juga masih dianggap cukup tinggi bagi sebagian masyarakat. Hal ini mendorong perlunya alternatif bahan pencegahan yang lebih aman, alami, dan terjangkau.

Melalui penelitiannya, Dr. Likky mengeksplorasi potensi daun Cordyline fruticosa, tanaman yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antimikroba.

Penelitian tersebut menguji kemampuan ekstrak dan fraksi daun tanaman ini dalam menghambat pertumbuhan serta pembentukan biofilm dari dua mikroorganisme utama penyebab karies pada anak, yakni bakteri Streptococcus mutans dan jamur Candida albicans.

Hasil berbagai uji laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi daun Cordyline fruticosa mampu menghambat pertumbuhan kedua mikroorganisme tersebut pada konsentrasi tertentu.

Selain itu, pengujian keamanan juga menunjukkan bahwa bahan alami ini memiliki tingkat toksisitas rendah hingga sedang terhadap sel tubuh, sehingga dinilai memiliki potensi keamanan yang baik dalam batas penggunaan tertentu.

Penelitian ini juga menemukan bahwa ekstrak daun hanjuang tidak hanya mampu menekan pertumbuhan mikroorganisme, tetapi juga mengurangi pembentukan biofilm, yaitu lapisan lengket yang menjadi awal terbentuknya plak dan kerusakan gigi. Lebih lanjut, ekstrak tersebut terbukti memengaruhi ekspresi gen yang berperan dalam proses pembentukan biofilm.

Berdasarkan temuan tersebut, ekstrak dan fraksi daun Cordyline fruticosa dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan antibiofilm alami dalam upaya pencegahan karies gigi pada anak usia dini.

Dekan FKG UI, Prof. drg. Lisa Rinanda Amir, Ph.D., PBO, menyampaikan apresiasi atas capaian akademik sekaligus kontribusi ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian tersebut.

“Penelitian ini menunjukkan bagaimana ilmu kedokteran gigi terus berkembang melalui inovasi berbasis riset, termasuk pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Kami berharap temuan ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan bahan preventif karies yang lebih aman, terjangkau, dan bermanfaat bagi kesehatan gigi anak-anak,” ujar Prof. Lisa dikutip dari laman UI, Rabu (11/3),

Melalui promosi doktor ini, FKG UI kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menghadirkan inovasi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

(naf/kho)