TEHRAN, ifakta.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selain penyerahan tanpa syarat di tengah meningkatnya konflik militer antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Melalui pernyataan di platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa Iran harus menyerah sepenuhnya jika ingin mengakhiri konflik.
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selain penyerahan tanpa syarat,” tulis Trump.
Iklan
Ia juga menyebut bahwa setelah kepemimpinan baru terbentuk di Iran, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya akan bekerja untuk memulihkan kondisi negara tersebut secara ekonomi.
“Setelah pemimpin yang hebat dan dapat diterima terpilih, kami bersama para sekutu dan mitra yang berani akan membantu Iran bangkit dari ambang kehancuran dan menjadikannya lebih kuat secara ekonomi,” ujarnya.
Presiden Iran Minta Maaf kepada Negara Tetangga
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan melalui siaran televisi nasional pada Sabtu (7/3). Ia meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak konflik.
“Saya merasa perlu meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang. Kami tidak berniat menyerang mereka,” kata Pezeshkian.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah Iran telah memerintahkan angkatan bersenjata untuk tidak menyerang negara tetangga kecuali jika Iran diserang terlebih dahulu.
Pezeshkian turut mengingatkan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi untuk menyerang Iran agar tidak menjadi “boneka imperialisme”.
Bandara Mehrabad Diserang
Di tengah ketegangan tersebut, ledakan besar dilaporkan terjadi di Bandara Mehrabad di Teheran, yang merupakan salah satu bandara tersibuk di Iran.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa pesawat terbakar dan kepulan asap tebal membumbung tinggi dari area bandara.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa beberapa bagian fasilitas bandara menjadi sasaran serangan dalam gelombang serangan terbaru yang dilancarkan Israel.
Ribuan Korban Sipil
Menurut Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, sebanyak 1.332 warga sipil dilaporkan tewas sejak serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Ia menyebut perempuan dan anak-anak termasuk di antara korban tewas, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Iravani juga menuduh bahwa sejumlah fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur publik sengaja dijadikan sasaran.
Namun pemerintah Amerika Serikat membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak menargetkan fasilitas sipil.
WHO: 13 Fasilitas Kesehatan Hancur
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa pihaknya telah mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah fasilitas kesehatan.
“Ada 13 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran dan satu di Lebanon,” kata Tedros.
Menurut hukum humaniter internasional, fasilitas kesehatan seharusnya dilindungi dan tidak boleh menjadi target serangan.
Kapal Perang Iran Tenggelam di Samudra Hindia
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim bahwa kapal selam Amerika Serikat telah menenggelamkan sebuah kapal perang Iran di Samudra Hindia.
“Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tetapi dihantam torpedo,” katanya.
Diduga kapal yang tenggelam adalah IRIS Dena, meskipun hal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh Iran.
Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan telah menyelamatkan 32 orang dari laut setelah menerima panggilan darurat dari kapal tersebut. Diperkirakan sekitar 140 orang lainnya masih hilang.
Namun pihak Sri Lanka menegaskan penyebab tenggelamnya kapal tersebut masih belum diketahui.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat Iran memperingatkan akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.
Penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabbari, menyatakan bahwa kapal yang mencoba melewati selat tersebut bisa menjadi target serangan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Serangan Juga Sasar Infrastruktur Energi
Konflik juga meluas ke sektor energi di kawasan Teluk.
Citra satelit menunjukkan kerusakan pada kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi yang dioperasikan oleh perusahaan energi Aramco.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan kerusakan yang terjadi relatif ringan setelah sistem pertahanan udara berhasil mencegat drone yang menyerang fasilitas tersebut.
Sementara itu, perusahaan energi QatarEnergy juga menghentikan sementara produksi gas alam cair (LNG) setelah beberapa fasilitas energi di negara tersebut menjadi sasaran serangan.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global jika konflik terus meningkat di kawasan Timur Tengah. (AMN)



