YOGYAKARTA, ifakta.co – Bangkai anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan di Resort Lancang Kuning, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kamis (26/2) siang.
Kematian satwa dilindungi tersebut diduga akibat infeksi pada kaki depan setelah terkena jerat yang dipasang di area hutan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menyampaikan keprihatinannya atas kematian anak gajah tersebut. Ia menilai penggunaan jerat pada satwa liar merupakan ancaman serius karena dapat menyebabkan cedera berat hingga kematian.
Iklan
Menurut Wisnu, jerat kerap menimbulkan luka parah yang berujung pada kecacatan permanen atau kematian secara perlahan akibat kelaparan, dehidrasi, maupun infeksi bakteri. Kondisi ini dinilai lebih berbahaya bagi anak gajah yang daya tahan tubuhnya masih lemah.
“Anak gajah masih kurang ketahanan tubuhnya dalam mempertahankan diri akibat kelaparan dan dehidrasi dibanding gajah dewasa,” jelasnya, dikutip dari rilis UGM, Jumat (6/3).
Jerat Ancam Populasi Satwa Liar
Wisnu menjelaskan bahwa jerat memiliki sifat tidak selektif atau indiscriminate. Artinya, alat tersebut dapat menjerat berbagai jenis satwa yang melintas di sekitarnya, bukan hanya target utama pemburu.
Ia menegaskan bahwa jerat tidak mampu membedakan spesies, sehingga satwa liar yang dilindungi juga berisiko menjadi korban.
“Masyarakat sering kali salah sasaran ketika memasang jerat yang menjerat satwaliar lain yang dilindungi, seperti harimau, gajah, beruang madu, atau orangutan,” paparnya.
Selain itu, bahan jerat seperti kawat baja atau sling memiliki kekuatan tinggi sehingga dapat melukai hingga membunuh satwa, baik berukuran kecil maupun besar. Jika jerat tidak diperiksa dalam waktu lama atau ditinggalkan oleh pemasangnya, alat tersebut tetap aktif dan dapat membahayakan satwa yang melintas.
“Bila jerat ini tidak diperiksa dalam waktu lama atau ditinggalkan oleh pemasangnya namun tetap aktif, maka dapat membunuh satwa liar dan pemburu lain yang melewati daerah tersebut,” ungkapnya.
Dampak Serius bagi Populasi Gajah
Kematian anak gajah di TNTN dinilai memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan populasi gajah sumatera di alam liar. Hilangnya satu individu muda dapat mengurangi potensi regenerasi populasi yang saat ini sudah terancam.
Wisnu menjelaskan bahwa gajah memiliki masa kehamilan yang panjang dan interval kelahiran sekitar 4–5 tahun. Oleh karena itu, kematian anak gajah dapat memperlambat pertumbuhan populasi secara signifikan.
“Anak gajah adalah masa depan kelompok populasi gajah. Dengan masa kehamilan panjang dan interval kelahiran 4-5 tahun, maka kematian anak gajah membuat pertumbuhan populasi sangat lambat atau mustahil,” jelasnya.
Selain berdampak pada regenerasi, kematian anak gajah juga dapat memicu gangguan sosial dalam kelompok. Gajah dikenal sebagai satwa dengan ikatan sosial yang kuat, sehingga kehilangan anggota kelompok dapat menimbulkan trauma.
“Kematian anak dapat menyebabkan trauma pada induk dan kelompok, mengganggu struktur sosial,” ungkap Wisnu.
Penanganan Satwa yang Terjerat
Wisnu juga menjelaskan langkah penanganan jika menemukan satwa liar yang terjerat. Menurutnya, masyarakat harus segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), polisi hutan, atau dokter hewan terdekat.
Penanganan medis biasanya diawali dengan pemeriksaan kondisi satwa. Jika diperlukan, tim dokter hewan dapat melakukan pembiusan atau sedasi untuk memudahkan proses pelepasan jerat.
Setelah jerat dilepas dengan alat pemotong khusus, luka pada tubuh satwa akan dibersihkan dari kotoran dan jaringan mati. Selanjutnya, dokter hewan memberikan antibiotik dan obat anti-inflamasi untuk mencegah infeksi serius.
Untuk perawatan lanjutan, luka dapat diobati menggunakan antiseptik, salep khusus, atau bahan alami seperti madu guna mempercepat penyembuhan jaringan.
Jika kondisi satwa sudah pulih, hewan dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Namun, apabila luka yang dialami cukup parah, satwa perlu menjalani perawatan intensif di fasilitas khusus.
“Bila lukanya cukup parah maka diperlukan perawatan intensif dengan mengevakuasi anak gajah tersebut ke Pusat Latihan Gajah. Pemantauan intensif perlu dilakukan untuk memastikan anak gajah dapat beradaptasi dan luka sembuh total,” pungkasnya.
(naf/kho)



