JAKARTA, ifakta.co – Film Para Perasuk mengangkat cerita tentang sebuah desa bernama Latas yang memiliki tradisi unik dalam mencari kesenangan bersama.

Warga desa tersebut menjalani ritual kerasukan yang dilakukan secara kolektif sebagai bagian dari perayaan.

Ritual itu digelar di sebuah tanah lapang saat siang hari. Para warga menari mengikuti irama musik dan mantra yang dibacakan oleh seorang perasuk. Dalam ritual tersebut, perasuk berperan menyalurkan roh binatang kepada para penari yang disebut sebagai pelamun.

Iklan

Ketika kerasukan terjadi, para pelamun diyakini memasuki kondisi halusinasi yang disebut sebagai Alam Sambetan. Di alam tersebut, mereka merasakan pengalaman yang berbeda dari dunia nyata.

Cerita kemudian berpusat pada sosok Guru Asri, seorang perasuk yang disegani di Desa Latas. Ia mengadakan sayembara untuk mencari penerus yang akan melanjutkan perannya dalam memimpin ritual kerasukan di desa tersebut.

Sayembara itu menarik minat Bayu, pemuda desa yang sejak lama bercita-cita menjadi seorang perasuk. Selain Bayu, ada Ananto yang juga memiliki ambisi serupa. Persaingan keduanya semakin rumit karena Pawit, sahabat Ananto, turut terlibat dalam perjalanan tersebut.

Di sisi lain, terdapat Laksmi, seorang pelamun yang mengalami ketagihan untuk kembali mengikuti ritual kerasukan.

Pesan Moral Film

Sutradara Wregas Bhanuteja menyebut film ini tidak dimaksudkan untuk menyindir atau merendahkan budaya tertentu. Menurutnya, cerita dalam Para Perasuk bersifat fiksi, meskipun terinspirasi dari fenomena kerasukan yang dikenal di berbagai budaya di dunia.

“Jadi, tidak ada mengacu kepada kultur tertentu,” ujar Wregas dalam konferensi pers Kick Off Film Para Perasuk di Galeri Indonesia Kaya.

Ia menambahkan bahwa praktik kerasukan tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi juga hadir dalam berbagai tradisi di wilayah Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.

Melalui film ini, Wregas ingin mengajak penonton melakukan refleksi diri. Ia menggambarkan bagaimana seseorang yang terlalu terobsesi pada ambisi, kekuasaan, atau pengakuan dapat kehilangan kesadaran terhadap orang-orang terdekatnya.

“Ketika kita haus akan kekuasaan, validasi, atau kekuatan kadang kita jadi lupa dengan orang-orang yang sayang dengan kita,” kata Wregas.

Sutradara dan Produksi Film

Para Perasuk merupakan film panjang ketiga Wregas Bhanuteja setelah Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti. Berbeda dari karya sebelumnya, film ini mengusung genre drama supernatural.

Film tersebut diproduseri oleh Siera Tamihardja, Iman Usman, dan Amalia Rusdi. Proyek ini juga menjadi kolaborasi produksi antara Indonesia, Singapura, dan Prancis.

Sebelumnya, Para Perasuk menerima hibah pascaproduksi melalui program Spring 2025 Post-Production Grants dari Purin Pictures di Thailand. Film ini juga meraih penghargaan CJ ENM Award pada ajang Asian Project Market dalam rangkaian Busan International Film Festival (BIFF) 2024.

Daftar Pemain Film Para Perasuk

Film ini dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama Indonesia, di antaranya:

  • Angga Yunanda sebagai Bayu
  • Chicco Kurniawan sebagai Pawit
  • Maudy Ayunda sebagai Laksmi
  • Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri
  • Bryan Domani sebagai Ananto
  • Indra Birowo sebagai Bapak Bayu
  • Ganindra Bimo sebagai Fahri

Prestasi di Sundance Film Festival 2026

Film Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja mencatat capaian penting di kancah internasional. Karya tersebut disambut meriah usai pemutaran perdananya secara global dalam Sundance Film Festival 2026 yang digelar di Negara Bagian Utah, Amerika Serikat, Sabtu (24/1). Film ini mendapatkan standing ovation atau tepuk tangan panjang dari penonton festival.

Selain itu, Para Perasuk juga berhasil menembus kategori World Cinema Dramatic Competition di Sundance 2026.

Pencapaian ini menjadikannya sebagai film Indonesia pertama yang terpilih dalam program tersebut setelah 13 tahun terakhir.

(naf/kho)