BANYUMAS, ifakta.co – Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed) menghadirkan Prof. Myrra Vernooij-Dassen dari Radboud University Medical Center, Belanda, dalam kuliah pakar bertajuk Providing Holistic Care for People with Dementia: Addressing Psychosocial Issues, Senin (2/3).

Kegiatan yang diikuti dosen, mahasiswa kedokteran, serta residen neurologi dan anestesiologi ini menjadi bagian dari upaya penguatan pendekatan biopsikososial dalam merespons peningkatan kasus demensia.

Dalam paparannya, Prof. Vernooij-Dassen mengungkapkan bahwa prevalensi demensia global saat ini mencapai sekitar 25 juta kasus. Sementara di Indonesia, diperkirakan sekitar 4 juta orang hidup dengan kondisi tersebut.

Iklan

Ia menekankan bahwa hampir separuh faktor risiko demensia sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan.

“Sekitar 45 persen faktor risiko demensia sebenarnya dapat kita intervensi. Artinya, kita memiliki peluang besar untuk memperlambat bahkan mencegah sebagian kasus melalui pendekatan yang tepat,” ujarnya, dikutip dari rilis Unsoed (4/3).

Faktor risiko yang dimaksud antara lain rendahnya tingkat pendidikan, isolasi sosial, gangguan pendengaran, dislipidemia, hipertensi, diabetes, stroke, obesitas, kurang aktivitas fisik, hingga depresi.

Karena itu, ia menilai strategi pencegahan dan intervensi dini menjadi langkah krusial dalam pengendalian demensia.

Salah satu konsep yang disorot dalam kuliah tersebut adalah social health, yakni kemampuan seseorang untuk membangun relasi yang bermakna, mempertahankan kemandirian, serta tetap aktif dalam kehidupan sosial.

“Isolasi sosial bukan hanya tentang sedikitnya interaksi, tetapi tentang kualitas hubungan dan rasa bermakna di dalamnya. Menjadi bagian yang berarti bagi orang lain sangat berpengaruh terhadap kesehatan kognitif,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan sosial yang aktif dapat memperkuat cognitive reserve, yakni kapasitas otak membangun jalur alternatif ketika terjadi gangguan atau kerusakan.

“Prinsipnya, use it or lose it, semakin aktif dan bermakna aktivitas sosial seseorang, semakin besar peluang mempertahankan fungsi kognitif,” tegasnya.

Dalam praktik klinis, Prof. Vernooij-Dassen mendorong tenaga kesehatan untuk melakukan skrining rutin dan pengelolaan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti pengendalian tekanan darah, kadar lemak, obesitas, gangguan pendengaran, serta depresi.

Ia juga menyoroti efektivitas berbagai intervensi psikososial, mulai dari rehabilitasi kognitif, terapi okupasi, latihan fisik, terapi musik, hingga pendekatan case management untuk menjaga kualitas hidup pasien demensia.

Selain aspek medis, ia menekankan pentingnya menjaga martabat pasien serta menerapkan prinsip shared decision making dalam pengambilan keputusan klinis. Edukasi keluarga juga dinilai penting guna mengurangi stigma terhadap penyandang demensia.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen FK Unsoed dalam mengintegrasikan aspek biologis, psikologis, dan sosial dalam pendidikan serta layanan kesehatan.

Forum akademik tersebut juga membuka peluang kolaborasi lanjutan di bidang pendidikan dan riset antara FK Unsoed dan Radboud University Medical Center.

Melalui kuliah pakar ini, FK Unsoed menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan demensia, tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan dimensi psikososial pasien.

Dengan penguatan kolaborasi internasional dan edukasi berkelanjutan, diharapkan kualitas layanan bagi penyandang demensia di Indonesia dapat terus meningkat.

(naf/kho)