YOGYAKARTA, ifakta.co – Ketekunan dan kedisiplinan mengantarkan Khaira Zata Dini kepada pencapaian istimewa di lingkungan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Mahasiswi program D4 Teknologi Veteriner itu menyelesaikan studi sarjana terapan dalam waktu 3 tahun 11 bulan 2 hari, lebih singkat dibanding rata-rata masa studi 152 lulusan periode yang sama, yakni 4 tahun 6 bulan.
Dengan capaian tersebut, ia dinobatkan sebagai wisudawan dengan masa studi tercepat pada jenjang sarjana terapan.
Iklan
Minatnya terhadap Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sejak SMA serta pengalaman belajar melalui praktikum laboratorium menjadi titik awal ketertarikannya pada bidang veteriner.
Latar belakang keluarga yang berkecimpung di ranah biologi dan kedokteran hewan turut memperkuat pilihannya menempuh jalur tersebut.
Selama kuliah, Aira, sapaan akrabnya, merasakan manfaat dari sistem pembelajaran yang terstruktur. Pembagian Satuan Kredit Semester (SKS) yang telah ditetapkan program studi membantunya merancang studi secara terarah.
Ia juga bergabung dalam tim riset dosen sejak awal perkuliahan, yang membiasakannya menunjukkan perkembangan setiap pekan, termasuk dalam proses penyusunan tugas akhir.
“Pemikiran yang ditanamkan dari dosen untuk selalu berprogres. Progres belajar, riset, hingga tugas akhir harus selalu ada setiap minggu walau sekecil apapun,” ungkapnya, Selasa (3/3).
Namun, di balik keberhasilan akademiknya, ada dorongan personal yang kuat. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Aira tumbuh dalam keluarga dengan semangat yang sama: menjadi kebanggaan orang tua.
Ia dan saudara-saudaranya memiliki tekad untuk segera menyelesaikan pendidikan dan memulai karier sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus wujud bakti kepada keluarga.
“Aku sama saudaraku punya tujuan sama untuk menjadi kebanggaan orang tua dengan cepat lulus dan cepat mulai berkarir,” katanya.
Ia mengakui, dukungan moral dan spiritual dari kedua orang tua menjadi fondasi penting dalam perjalanannya. Semangat untuk membanggakan keluarga itulah yang membuatnya terpacu menyelesaikan studi lebih cepat dan tidak menunda langkah memasuki dunia kerja.
Motivasi tersebut terbukti membuahkan hasil bahkan sebelum prosesi wisuda. Tiga bulan setelah yudisium, Aira telah diterima bekerja di salah satu rumah sakit hewan di Jakarta.
Pengalaman profesional pertamanya justru membuka perspektif baru, terutama terkait perkembangan teknologi dan alat penunjang medis di bidang veteriner.
Rasa ingin tahunya terhadap inovasi tersebut mendorongnya merancang rencana studi lanjutan. Ia berkeinginan kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan magister di bidang Bioteknologi UGM, selaras dengan topik tugas akhir yang telah ia dalami.
“Rencanaku nanti akan kembali ke Jogja, mencari pekerjaan di sini karena berencana untuk melanjutkan S2 di UGM,” tuturnya.
Aira menilai proses belajar tidak terbatas pada ruang kuliah. Dunia kerja, menurutnya, merupakan perpanjangan dari ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman praktis sekaligus tantangan baru.
Prinsip yang selalu ia pegang sederhana namun konsisten: mengingat kembali motivasi awal setiap kali menghadapi kejenuhan atau hambatan.
“Kalau kita punya motivasi besar yang harus kita capai akan menjadikan tujuan agar tidak mudah menyerah,” pungkasnya.
(naf/kho)



