BANYUMAS, ifakta.co – Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kelenteng Hok Tek Bio, Purwokerto, Kab Banyumas, Jawa Tengah berlangsung dengan suasana berbeda.

Puncak peringatan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15, pada Selasa (3/3) itu untuk pertama kalinya bertepatan dengan bulan suci Ramadan, menghadirkan nuansa kebersamaan lintas iman di Kabupaten Banyumas.

Sejak sore hari, halaman kelenteng telah dipadati masyarakat. Tak hanya umat Tionghoa, warga lintas agama, termasuk Muslim dari berbagai wilayah di Banyumas, turut hadir.

Iklan

Sebagian memanfaatkan momen tersebut untuk ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa sambil menyaksikan atraksi barongsai dan liong.

Rangkaian kirab Toa Pek Kong—arak-arakan patung dewa mengelilingi jalan sekitar kelenteng tetap digelar, namun dengan penyesuaian jadwal.

Jika biasanya berlangsung hingga malam selepas Salat Isya, tahun ini seluruh kegiatan dimajukan ke sore hari dan diselesaikan sebelum waktu Isya dan Tarawih.

Penyuluh Agama Konghucu Kementerian Agama Banyumas yang juga pengurus Kelenteng Hok Tek Bio, Trisno Rahayu, mengatakan penyesuaian itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Biasanya Cap Go Meh dilaksanakan selepas Isya, tetapi karena saudara kami yang Muslim sedang melaksanakan ibadah puasa, rangkaian kegiatan kami selesaikan sebelum Isya dan Tarawih supaya mereka bisa lebih nyaman beribadah,” ujarnya, dikutip dari Tribun Banyumas, Selasa (3/3).

Selain mengatur jadwal, pengurus kelenteng juga menyiapkan sajian Lontong Cap Go Meh untuk dibagikan kepada masyarakat. Sekitar 700 hingga 1.000 mangkuk hidangan khas hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa itu disediakan, termasuk untuk warga Muslim yang berbuka puasa di lokasi.

“Lontong Cap Go Meh merupakan akulturasi kuliner dari Tionghoa dan Jawa. Kami menyediakan kurang lebih 700 sampai 1.000 mangkok untuk masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, Cap Go Meh merupakan momentum menyambut purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek, sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar tahun yang baru membawa kemajuan dan keberkahan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Banyumas, Ibnu Asaddudin, menilai perayaan yang berbarengan dengan Ramadan ini menjadi gambaran nyata kuatnya toleransi dan moderasi beragama di daerah tersebut.

“Ini menggambarkan luar biasa terbukanya kita, sehingga Banyumas guyub, rukun, aman, dan tenteram,” ujar Ibnu.

Menurut Ibnu, jika setiap pemeluk agama memahami dan mengamalkan ajarannya dengan baik, potensi gesekan sosial dapat dihindari.

Camat Purwokerto Timur Oka Yudhistira Pranayudha menyebut Cap Go Meh yang digelar 15 hari setelah Imlek memperlihatkan akulturasi budaya yang telah lama tumbuh di Banyumas. Ia menyoroti keterlibatan warga non-Tionghoa dalam kirab dan atraksi budaya.

“Tadi atraksi barongsai dan kirab Toa Pek Kong tidak hanya diikuti warga Tionghoa, tetapi juga ada masyarakat Purwokerto asli yang turut menggotong dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,” ujarnya.

Menurut Oka, perayaan tersebut bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga ruang perjumpaan yang memperkuat kerukunan sosial. Di satu sisi umat Konghucu merayakan Cap Go Meh, di sisi lain umat Muslim turut diundang untuk berbuka puasa bersama.

Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kelenteng Hok Tek Bio berlangsung dengan penyesuaian jadwal tanpa menghilangkan rangkaian tradisi yang menjadi bagian dari puncak peringatan Tahun Baru Imlek.

(naf/kho)