SINGARAJA ,ifakta.co,– Pihak keluarga almarhum I Putu Gde Pradnya Nolan Toli menyesalkan beredarnya spekulasi liar di media sosial terkait penyebab kematian Nolan. Salah satu isu yang berkembang menyebutkan pemuda berusia 22 tahun tersebut mengakhiri hidupnya. Keluarga dengan tegas membantah kabar tersebut.
Untuk diketahui, jenazah Nolan ditemukan di dasar jurang kawasan Shortcut Singaraja–Denpasar, Bali, tepatnya di titik 7, pada Kamis (26/2/2026). Jenazah pertama kali ditemukan oleh warga sekitar, Wayan Somarata. Penemuan itu bermula dari kecurigaannya terhadap sepeda motor Honda Sonic hitam DK 2069 UBQ yang terparkir berjam-jam di pinggir jembatan shortcut.
Nolan diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana (Unud). Ayah korban, Made Merdana, mengungkapkan komunikasi terakhir dengan sang anak berlangsung hangat dan penuh semangat.
“Dia dalam kondisi senang karena pendaftaran yudisium sudah disetujui dan skripsinya sudah selesai dijilid. Saat itu dia juga bilang akan pulang ke Buleleng,” ujar Merdana, Jumat (27/2/2026).
Mendengar rencana kepulangan tersebut, Merdana sempat memastikan kondisi cuaca di Denpasar dan menyarankan agar perjalanan ditunda jika cuaca buruk. Namun Nolan menyampaikan cuaca dalam kondisi cerah. Sang ayah pun hanya berpesan agar berhati-hati di jalan dan tidak memaksakan diri menerobos hujan.
Iklan
Dalam percakapan itu, Nolan juga meminta pendapat ayahnya mengenai rencana magang atau bekerja selama waktu luang enam bulan menjelang wisuda. Merdana menyarankan agar Nolan pulang terlebih dahulu dan membantu rencana usaha keluarga.
“Saya sarankan enam bulan itu digunakan untuk breeding ayam, usaha sendiri sudah kami persiapkan. Dia jawab oke,” jelasnya.
Setelah panggilan tersebut, Nolan sempat mengabari keluarga bahwa ia mampir ke kampus sehingga perjalanan pulang dilakukan lebih siang. Namun hingga sore hari, ia tak kunjung tiba di rumah. Merdana yang mulai cemas berupaya menghubungi sang anak.
“Saya telepon nyambung tapi tidak diangkat. Saya kirim pesan WhatsApp sempat terkirim, tapi tidak lama kemudian hanya centang satu,” tuturnya.
Atas saran seorang teman yang merupakan anggota kepolisian, Merdana diminta menghubungi layanan 110 dan mendatangi kantor polisi. Tak lama berselang, ia menerima informasi adanya temuan sepeda motor di Jembatan Shortcut 7.
“Setelah saya cek, benar itu sepeda motornya,” imbuhnya.
Keluarga sangat menyayangkan berbagai spekulasi yang beredar di media sosial, termasuk tudingan terkait pinjaman online. Menurut Merdana, informasi tersebut tidak benar dan menyakitkan bagi keluarga.
“Informasi di medsos sangat keliru. Kami keberatan. Saya yakin ini murni musibah dan tidak ada hal-hal yang membuat anak saya mengambil jalan pintas,” tegasnya.
Ia menduga peristiwa yang menimpa Nolan merupakan kecelakaan. Kemungkinan korban terpeleset saat mengambil foto atau tersandung ketika berada di sekitar lokasi, mengingat tas korban ditemukan berada di bagian depan.
“Bagi saya ini musibah. Bisa saja saat ambil foto terpeleset, atau saat memakai sepatu tersandung. Tasnya ada di depan,” ucapnya.
Hobi Fotografi dan Prestasi Akademik
Made Merdana menuturkan, putranya dikenal aktif dan memiliki minat besar di bidang fotografi. Semasa kuliah, Nolan pernah menjadi jurnalis sekaligus fotografer untuk majalah kampus.
“Dia senang fotografi. Kameranya ditemukan di bawah jurang dalam kondisi hancur. Anak ini memang rasa ingin tahunya tinggi. Kalau ada hal unik pasti didekati,” ungkapnya.
Selain aktif, Nolan juga berprestasi secara akademik. Ia mampu menyelesaikan studi dalam tujuh semester dengan predikat cumlaude. Nolan sebenarnya sudah bisa mengikuti yudisium pada April mendatang, namun memilih menunggu rekan seangkatannya.
“Di angkatannya sekitar 200 orang, yang lulus baru 12 orang. Dia memilih menunggu teman-temannya,” tandas Merdana.
