TEHERAN, IFAKTA.co — Upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran resmi berakhir deadlock setelah kedua pihak gagal mencapai titik temu dalam perundingan terkait program nuklir dan stabilitas kawasan. Kebuntuan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum situasi memanas dengan klaim serangan besar-besaran oleh Israel ke ibu kota Iran, Teheran.

Menteri Pertahanan Israel dalam pernyataan resminya menyebut serangan rudal yang dilancarkan dini hari itu “menghancurkan target strategis di Teheran” yang diklaim terkait infrastruktur militer dan fasilitas yang diduga berhubungan dengan pengembangan senjata.

Iklan

Di sisi lain, pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut sebagai agresi terbuka dan menyatakan siap melakukan balasan. Situasi ini memicu kekhawatiran global atas kemungkinan perang terbuka di kawasan Timur Tengah.

Perundingan antara Washington dan Teheran yang berlangsung beberapa pekan terakhir disebut-sebut sebagai peluang terakhir meredakan krisis nuklir.
AS menuntut pembatasan lebih ketat terhadap pengayaan uranium dan transparansi penuh terhadap inspeksi internasional.

Iran, sebaliknya, menuntut pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh sebelum melakukan konsesi tambahan. Deadlock ini mempersempit ruang diplomasi dan memperbesar peluang eskalasi militer.

Kawasan Timur Tengah berpotensi berubah menjadi arena konflik luas. Negara-negara sekutu Iran di kawasan dapat terseret, termasuk kelompok-kelompok bersenjata pro-Teheran di Lebanon, Suriah, hingga Yaman.

Israel sendiri kemungkinan meningkatkan status siaga militer penuh, sementara pangkalan-pangkalan AS di Teluk Persia berada dalam kewaspadaan tinggi.
(FA-FZA)