JAKARTA, ifakta.co – Sahur adalah salah satu amalan penting dalam ibadah puasa Ramadan. Meski hukumnya tidak wajib, sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan, baik secara fisik maupun spiritual.
Bahkan, Rasulullah SAW menekankan agar umatnya tidak meninggalkan sahur meskipun hanya dengan seteguk air.
Pengertian Sahur
Iklan
Dalam buku Materi Puasa Ramadhan karya Yunus Hanis Syam dijelaskan bahwa dalam bahasa Arab terdapat dua istilah yang berkaitan dengan sahur:
- As-sahuur (dengan huruf sin difathahkan) berarti makanan atau minuman untuk sahur.
- As-suhuur (dengan huruf sin didhammahkan) berarti aktivitas atau perbuatan makan sahur itu sendiri.
Sementara itu, dalam Ensiklopedi Puasa karya Irfan Supandi, sahur diartikan sebagai makan dan minum pada malam hari, mulai tengah malam hingga sebelum Subuh.
Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dalam bukunya Mukjizat Puasa menjelaskan bahwa sahur adalah hidangan yang dimakan pada waktu dini hari setelah pertengahan malam hingga fajar, dengan tujuan memberi kekuatan bagi orang yang berpuasa.
Hukum Sahur
Para ulama sepakat bahwa hukum sahur adalah sunnah. Artinya, tidak wajib tetapi sangat dianjurkan.
Dalam hadits riwayat Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari)
Hadits riwayat Musnad Ahmad juga menyebutkan:
“Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air. Karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang bersahur.”
Ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar makan sebelum puasa, tetapi bagian dari ibadah yang berpahala.
Waktu Sahur
Waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam hingga terbit fajar (masuk waktu Subuh). Dalam Surah Al-Qur’an, tepatnya QS Al-Baqarah ayat 187, Allah SWT berfirman:
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
Ayat ini menjadi dasar diperbolehkannya makan hingga jelas terbit fajar.
Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, yakni mendekati waktu Subuh, agar waktu menahan lapar lebih singkat.
Dalam hadits riwayat Shahih Muslim disebutkan bahwa pembeda antara puasa umat Islam dan ahli kitab adalah makan sahur:
“Sesungguhnya perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim)
Keutamaan Sahur
Berikut beberapa keutamaan sahur yang dijelaskan dalam hadits:
1. Mengandung Keberkahan
Sahur membawa berkah, baik bagi kesehatan tubuh maupun pahala ibadah.
2. Mendapat Salawat dari Allah dan Malaikat
Orang yang bersahur mendapatkan doa dan salawat dari Allah SWT dan para malaikat.
3. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Waktu sahur bertepatan dengan sepertiga malam terakhir, waktu yang mustajab untuk berdoa. Dalam hadits riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan mengabulkan doa hamba-Nya.
4. Disunnahkan Meski Sedikit
Bahkan jika hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma, sahur tetap dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik sahur bagi orang mukmin adalah kurma (HR Abu Dawud).
Hikmah Sahur
Secara fisik, sahur membantu menjaga stamina selama berpuasa. Asupan makanan dan minuman memberikan energi agar tubuh kuat menahan lapar dan dahaga hingga Magrib.
Secara spiritual, sahur melatih kedisiplinan, memperbanyak zikir dan istigfar, serta memperkuat niat beribadah. Bangun di sepertiga malam terakhir juga membuka kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(naf/kho)



