BANYUMAS, ifakta.co – Di usianya yang ke-22 tahun, Zahra Dwi Karunia menjadi pemeran utama dalam pementasan Elegi Lembah Narmada.

Ia memerankan tokoh Citrawati dalam pertunjukan berdurasi 55 menit, sebuah capaian yang tak lahir dari perjalanan instan.

Menariknya, langkah Zahra di dunia tari justru berawal dari hal sederhana: ikut teman.

Iklan

“Sebenarnya dulu aku ikut cuma karena teman. Aku belum tahu mau jadi apa, terus diajak, ya sudah ikut saja. Ternyata seru banget. Kita belajar sesuatu yang unik, menggerakkan anggota badan dengan musik. Di situ aku merasa kebawa suasananya,” ungkap Zahra, Senin (17/2).

Dari Coba-Coba hingga Sadar Makna Pelestarian

Zahra mulai tertarik pada tari sejak SMP dan bergabung dengan sanggar saat kelas 9. Setelah lulus, ia mencari relasi dan akhirnya mendapat rekomendasi untuk bergabung dengan Sanggar Jagabaya Nuswantara. Di sana, ia dipercaya oleh sutradara sekaligus pelatih, Muhammad Ridwan Bungsu, untuk memerankan Citrawati.

Saat awal menekuni tari, Zahra mengaku belum menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagian dari pelestarian budaya.

“Waktu itu aku belum paham kalau ini bagian dari upaya melestarikan kesenian dan budaya. Tapi setelah sadar, justru makin cinta dan makin suka,” tuturnya.

Kini, selain aktif tampil di panggung, Zahra juga kerap mengajar di sanggar, berbagi pengalaman kepada adik-adik generasi berikutnya.

Tantangan Empat Kali Latihan

Peran Citrawati dalam Elegi Lembah Narmada bukan tanpa tantangan. Pertunjukan tersebut merupakan sekuel atau lanjutan dari pementasan sebelumnya, sehingga menuntut pendalaman karakter yang kuat.

“Pentasnya 55 menit, tapi latihan cuma empat kali,” kata Zahra.

Kendala utama terletak pada teknis waktu. Para pemain berasal dari latar berbeda, ada yang masih sekolah, mahasiswa, hingga bekerja, sehingga sulit menyamakan jadwal.

“Kesulitannya memang di waktu. Susah banget match jadwal karena semuanya punya kesibukan masing-masing,” jelasnya.

Tak hanya itu, membangun chemistry antar tokoh juga menjadi tantangan tersendiri. Cerita yang diangkat tidak sepenuhnya relate dengan kehidupan sehari-hari para pemain, sementara waktu latihan terbatas.

“Karena ceritanya tidak terlalu relate dan waktu latihan sedikit, kadang chemistry itu susah dibangun. Tapi dengan usaha mendalami cerita, akhirnya kami bisa menemukan rasa itu,” ungkapnya.

Duta Wisata yang Konsisten di Panggung Tradisi

Selain aktif sebagai pegiat seni sendratari, Zahra juga merupakan pemenang Kakang Mbakyu Banyumas 2023. Status sebagai duta wisata tak membuatnya menjauh dari panggung tradisi, justru memperkuat komitmennya dalam mempromosikan budaya daerah.

Sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, Zahra mampu memadukan peran akademik dan kesenian. Baginya, seni bukan sekadar hobi, melainkan ruang tumbuh.

Pesan untuk Generasi Muda

Zahra juga menyampaikan pesan sederhana bagi teman-teman seusianya. Menurutnya, pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan tampil di panggung atau terlibat langsung dalam produksi seni.

“Kalau mau ikut melestarikan budaya, nggak harus terjun langsung atau nonton jauh-jauh kok. Bisa dimulai dari hal kecil. Like, share postingan acara kesenian atau pementasan di media sosial. Menurut aku itu sudah bentuk apresiasi dan sangat membantu,” pesannya.

Perjalanan Zahra membuktikan satu hal: kesadaran mencintai budaya bisa tumbuh dari langkah kecil. Dari sekadar ikut teman, ia kini menjadi salah satu wajah muda sendratari Banyumas, membawa tradisi tetap hidup di tengah generasinya sendiri.

(naf/kho)