JAKARTA, ifakta.co – Pasar valuta asing bergerak dalam irama yang pelan namun pasti. Dolar Amerika Serikat menguat tipis di tengah volume perdagangan yang relatif sepi, menyusul libur pasar di Amerika Serikat pada Senin waktu setempat.

Ketidakhadiran pelaku pasar utama dari Negeri Paman Sam itu membuat denyut transaksi global terasa lebih lengang dari biasanya.

Iklan

Minimnya partisipasi investor institusi dari AS menjadikan pergerakan mata uang cenderung terbatas. Likuiditas yang menipis kerap memperbesar sensitivitas pasar terhadap order dalam jumlah kecil, sehingga fluktuasi terjadi tanpa landasan sentimen yang kuat.

Dalam kondisi seperti ini, arah pergerakan dolar lebih banyak dipengaruhi oleh penyesuaian posisi jangka pendek ketimbang faktor fundamental baru.

Bagi pasar Asia, situasi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa petunjuk yang jelas dari Wall Street maupun data ekonomi utama AS, pelaku pasar di kawasan bergerak dengan kehati-hatian tinggi.

Aktivitas perdagangan cenderung defensif, menunggu katalis berikutnya yang dapat memberi arah lebih tegas terhadap sentimen risiko global.

Sejumlah analis menilai, penguatan dolar kali ini lebih bersifat teknikal, didorong oleh aksi lindung nilai dan reposisi portofolio setelah akhir pekan panjang. Pasar masih mencermati perkembangan data inflasi, kebijakan suku bunga, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal internasional.

Dengan volume yang kembali normal pada sesi perdagangan berikutnya, investor diperkirakan akan mencari konfirmasi arah baru.

Hingga saat itu tiba, pasar Asia berjalan di antara bayang-bayang ketidakpastian, menakar setiap langkah di tengah sunyinya petunjuk dari pusat keuangan dunia. (FA)