BANYUMAS, ifakta.co – Kulit dan biji durian seringkali dianggap tidak berguna dan berakhir di tumpukan sampah. Namun lain dengan Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas.
Desa dengan julukan ‘Sentra Penghasil Durian’ ini berhasil mengupayakan pengolahan sisa buah durian menjadi sarana inovasi, olahan kreatif, hingga bahan edukasi.
Alasmalang sebagai Desa Wisata dan Sentra Penghasil Durian Alasmalang terdaftar sebagai Desa Wisata yang secara resmi ditetapkan dalam Keputusan Bupati Banyumas Nomor 859 Tahun 2025 dan termasuk dalam Program Trilas Bupati Banyumas pada pilar Pengembangan Desa Wisata dengan melibatkan BUMDes.
Iklan

Desa Alasmalang terletak di dataran tinggi dengan kontur tanah yang subur. Kondisi geografis seperti ini menjadikan Alasmalang cocok untuk pengembangan hortikultura, khususnya durian.
Masyarakat setempat secara aktif dan produktif memanfaatkan kondisi ini untuk mengembangkan budidaya durian yang terus meningkat hingga Desa Alasmalang dikenal sebagai sentra penghasil durian.
Hal ini dibuktikan dengan maraknya penjualan buah maupun bibit durian di sepanjang jalan Alasmalang. Jenisnya beragam, mulai dari varietas Bawor yang menjadi ikon Desa Alasmalang, hingga durian montong impor.
Berdasarkan keterangan Kepala Desa Alasmalang, Katam saat ini jumlah pedagang durian di Alasmalang mencapai sekitar 40 orang, sementara petaninya tercatat sebanyak 302 orang.
Dengan banyaknya produksi dan penjualan durian tersebut, sampah kulit dan biji yang dihasilkan pun semakin menumpuk.
Kesadaran Masyarakat dari Ancaman Bahaya Limbah
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus Bendahara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Alasmalang, Rohiyah mengatakan, sampah kulit dan biji durian sempat meresahkan warga karena berceceran di jalan.

“Sampah tersebut dikhawatirkan dapat melukai pejalan kaki dan merusak ban kendaraan. Kulit durian juga merupakan limbah yang sulit terurai dan dapat menimbulkan permasalahan lingkungan serius,” jelas Roniyah kepada ifakta.co, Senin (16/2)).
Temuan tersebut sesuai dengan Nugroho dalam J-Dinamika: Jurnal Pengabdian Masyarakat (2025) yang menyatakan bahwa limbah durian dapat mencemari udara dan air, serta menghasilkan gas berbahaya seperti metana (CH₄), amonia (NH₃), dan hidrogen sulfida (H₂S). Dengan kata lain, tanpa pengelolaan yang tepat, limbah durian bisa menjadi sumber pencemaran.
Pemahaman atas hal itu menumbuhkan kesadaran masyarakat Desa Alasmalang dan menjadi dorongan tersendiri bagi Roniyah.

“Saat itu saya tergugah untuk mengajukan proposal pengolahan limbah yang akhirnya mendapat perhatian dari Kepala Desa,” ungkap Roniyah.
Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan dari pihak swasta dalam bentuk pelatihan dan sarana prasarana.
Menurutnya, ia mendapatkan pelatihan pada tanggal 7 Oktober 2025 yang diikuti oleh anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
“Kalau narasumbernya dari mahasiswa Universitas Jendral Soedirman dan untuk pelatihannya meliputi cara mengolah kulit dan biji durian menjadi pupuk, bahan mentah dan olahan camilan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendapat fasilitas berupa alat-alat pengolahan dan bangunan.
Alur Pengolahan Limbah Durian
Sebagaimana disampaikan oleh Taatno, tim operator pengolahan limbah sekaligus anggota Pokdarwis Alasmalang, pengolahan limbah ini dimulai dari penyediaan bak sampah khusus untuk kulit dan biji durian yang ditempatkan di sepanjang jalan desa.

Selanjutnya, bak sampah tersebut dikumpulkan dan diangkut menggunakan truk menuju Balai Pusat Pengolahan Limbah Durian. Setiap minggu sampah durian ini berhasil terkumpul sekitar 50 kilogram.
Kulit durian diolah dengan cara dibersihkan, dicacah menggunakan mesin, lalu direbus dengan campuran asam nitrat untuk mengurai seratnya.
Setelah diperas dan dinetralkan kembali, kulit durian, dijemur hingga kering. Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan mentah hingga pupuk organik.
“Kulit durian yang sudah diproses tadi dapat dimanfaatkan sebagai isian boneka, pengisi kasur, lap minyak, hingga sorbet oli. Tidak hanya itu, kami juga membuat pupuk tanaman dengan cara mencampurkan cacahan kulit durian dengan air gula merah/molase dan EM4, yang kemudian difermentasi selama 3 minggu,” ujarnya Taatno saat ditemui di Balai Pusat Pengolahan Limbah Durian, Minggu (15/2).
Pupuk tersebut kata dia dimanfaatkan untuk merawat bibit dan pohon durian yang ada di sini.
“Untuk biji duriannya kami giling menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai bahan baku mie,” lanjutnya.
Selain itu, Balai Pusat Pengolahan Limbah Durian ini juga mengelola sisa olahan dengan memanfaatkannya sebagai pakan cacing.
“Kami mengelola budidaya cacing di lahan dengan luas 50×20 meter, tempatnya tepat di belakang Balai Pusat Pengolahan Limbah Durian. Jadi sebagian sampah kulit durian juga kami gunakan untuk pakan,” tambah Taatno.
Makan Habis Durian Sampai ke Kulitnya
Selain pengolahan limbah tadi, komitmen tersebut juga dibuktikan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berhasil mengolah semua bagian dari durian dengan kualitas rendah menjadi camilan.
“Tidak semua pohon durian menghasilkan kualitas sempurna, kami mengambil durian grade B dan C yang kurang laku di pasaran atau bahkan sering dibuang,” papar Ulfatul Istikhoroh, Ketua KWT, saat dihubungi (15/2).
Istikhoroh mengatakan, bahwa produksi ini sudah ia jalankan selama 3 tahun bersama 8 anggota KWT yang dibagi menjadi 3 tim. Produk yang dihasilkan bersumber dari tiga bagian durian yang meliputi daging durian, kulit durian dan biji durian.
“Daging durian kami olah menjadi dodol, bijinya kami buat basreng dan kerupuk, sedangkan kulitnya kami buat menjadi keripik,” jelas Istikhoroh.
Menurutnya, dalam waktu satu bulan, produksi dodol durian mencapai 8-10 kilogram. Sedangkan saat menjelang lebaran, produksi meningkat hingga 100 kilogram.
Pusat Edukasi bagi Wisatawan
Pengolahan limbah durian tidak berhenti sebagai upaya pelestarian lingkungan. BUMDes juga memanfaatkan label Desa Wisata sebagai ruang edukasi bagi wisatawan dengan menyediakan berbagai paket wisata edukasi.
Paket wisata edukasi tersebut menawarkan pembelajaran langsung melalui pengenalan Desa Alasmalang, pengolahan kulit durian, pembuatan dodol durian, budidaya cacing, sambung pucuk, dan masih banyak lagi.
Paket wisata ini menuai banyak peminat, mulai dari pelajar hingga mahasiswa mancanegara.
“Sejak Maret 2024, tercatat ada 205 kunjungan. Kunjungan tersebut datang dari kalangan pelajar dengan pendampingan guru, dosen, hingga mahasiswa dari Malaysia dan Jepang,” papar Roniyah saat dihubungi (16/2).
Wisata edukasi ini juga menjadi sarana penjualan dari hasil olahan durian yang dikelola KWT.
“Ketika ada kunjungan, kami buatkan tempat bazar untuk memasarkan produk yang kami hasilkan tadi. Penjualannya sangat menguntungkan, apalagi saat kedatangan wisatawan dalam jumlah banyak, produk yang dipasarkan bisa ludes habis,” sambung Roniyah.
Mewujudkan Desa Produktif Aktif dan Sejahtera
Dengan adanya komitmen serta gerakan berkelanjutan dari masyarakat dan BUMDes mengenai pengolahan limbah durian ini, Desa Alasmalang berhasil mewujudkan gerakan Banyumas Produktif, Aktif dan Sejahtera (PAS).
Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan masyarakat yang konsisten membuang sampah durian ke bak yang telah disediakan.
BUMDes yang terus berupaya mengelola limbah tersebut menjadi produk bernilai guna, serta penjualan produk dari pengolahan durian yang terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alasmalang.
Sejalan dengan hal tersebut, Katam, Kepala Desa Alasmalang menyampaikan harapannya agar masyarakat terus peduli sehingga program ini dapat berjalan dengan baik.
“Tentunya kami berharap Desa Alasmalang tetap aktif dan produktif, dengan lingkungan yang bersih dan sehat. Pengolahan limbah durian ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang tanggung jawab bersama menjaga desa agar terus tumbuh dan memberi manfaat serta kesejahteraan,” ungkapnya saat dihubungi (17/2).
Lebih dari sekadar pengolahan sampah, Desa Alasmalang membuktikan bahwa bergerak menuju kesejahteraan tidak harus berangkat dari proyek besar.
Permasalahan-permasalahan kecil yang dekat dengan kita, seperti sampah ternyata dapat menjadi ruang pembelajaran hingga sumber pendapatan apabila dikelola dengan konsisten.
(naf/kho)



