SUKABUMI, ifakta.co – Puluhan sopir angkutan kota (angkot) jurusan Surade–Ujunggenteng dan Surade–Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, meluapkan kekesalan mereka dengan mendatangi Terminal Surade, Senin (16/2/2026).
Aksi tersebut dipicu maraknya kendaraan wisata jenis odong-odong atau wara-wiri yang dinilai nekat mengambil penumpang di jalur resmi trayek angkot.
Para pengemudi menilai keberadaan kendaraan wisata tersebut telah menciptakan persaingan tidak sehat dan berdampak langsung pada penurunan pendapatan harian mereka.
Iklan
Aksi protes kemudian berlanjut ke depan Kantor UPTD Dinas Perhubungan (Dishub) Surade. Sekitar 20 unit angkot mendatangi kantor tersebut untuk menyampaikan aspirasi dan meminta pemerintah segera turun tangan.
Salah seorang sopir yang enggan disebutkan namanya mengaku kondisi ini semakin mempersempit ruang usaha mereka.
“Jelas terganggu. Sekarang angkot tidak ada orderan borongan. Sementara wara-wiri terus beroperasi di jalan raya yang memang ada trayek angkot,” keluhnya.
Menurut para sopir, kendaraan wisata seharusnya beroperasi terbatas di dalam kawasan objek wisata. Namun faktanya, kendaraan tersebut justru bebas melintas di jalan utama dan mengangkut penumpang umum.
“Mobil odong-odong atau wara-wiri itu kan dikhususkan di lokasi wisata, tapi malah beroperasi di jalan raya dan angkut penumpang,” tambahnya.
Menanggapi hal itu, Kepala UPTD Dishub Surade, Isep Sopian, membenarkan adanya aksi penyampaian aspirasi dari para sopir angkot.
Ia memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi dan koordinasi untuk menertibkan operasional kendaraan wisata agar sesuai ketentuan.
“Benar, mereka datang menyampaikan aspirasi terkait operasional wara-wiri. Kami akan segera menindaklanjuti dengan koordinasi dan evaluasi agar operasional kendaraan tersebut sesuai aturan yang berlaku,” tegas Isep.
Aksi yang berlangsung dengan pengawalan petugas itu berjalan tertib dan kondusif. Para sopir kini menanti langkah konkret pemerintah daerah untuk memperjelas pembagian wilayah operasional antara angkutan umum dan angkutan wisata.
Mereka berharap penertiban segera dilakukan demi menjaga keberlangsungan ekonomi sopir angkot lokal yang menggantungkan hidup dari trayek resmi tersebut. (AMN)



