BANYUMAS, ifakta.co – Pementasan dagelan calung berjudul “Asmara Suta Legenda Baturaden” memeriahkan Banyumas Culture Festival 2026.

Pertunjukan ini dibawakan oleh Sanggar Samudra dengan menggunakan bahasa panginyongan khas Banyumasan.

Sutradara sekaligus Ketua Panitia, Muhammad Ridwan Bungsu, menjelaskan bahwa proses latihan digarap dalam waktu relatif singkat.

Iklan

“Dagelan calung ini latihannya sekitar satu bulan. Tapi efektifnya hanya 7–8 hari,” ujarnya saat ditemui di backstage  Hetero Space Banyumas sebelum pementasan, Minggu (15/2) malam.

Menurutnya, para pemain merupakan anggota sanggar yang telah aktif di dunia seni peran dengan rentang usia 25–30 tahun. Pengalaman tersebut membuat proses kreatif berjalan lancar.

“Selama latihan alhamdulillah tidak ada kesulitan, karena kami sudah biasa berproses bersama,” tambahnya.

Secara cerita, pementasan ini mengangkat legenda babad Baturaden dengan latar sejumlah tempat bersejarah yang kini dikenal sebagai destinasi wisata.

Kisahnya berpusat pada Jaka Suta, seorang batur—sebutan bagi bawahan—yang jatuh cinta kepada putri seorang adipati. Asmara yang tumbuh di antara perbedaan status sosial itu menjadi benang merah yang menggerakkan alur cerita.

Ridwan menjelaskan bahwa naskah ditulis langsung oleh Jarot, dengan pendekatan kolaboratif antara legenda dan mitos.

“Tidak ada naskah utuh. Dari kami dan Pak Jarot punya ide, kemudian ditulis kasar dan langsung dipakai latihan. Ceritanya memang sudah ada sejak dulu, kami juga berpacu pada naskah-naskah kuno di perpustakaan,” jelasnya.

Menariknya, pertunjukan ini tidak hanya menyuguhkan kisah klasik, tetapi juga menyisipkan isu-isu kekinian dan guyonan masa kini.

Unsur kulturasi tersebut membuat cerita terasa lebih dekat dengan penonton tanpa menghilangkan nilai tradisi, dengan bahasa panginyongan yang memperkuat identitas lokal, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Banyumas.

Melalui dagelan calung ini, Sanggar Samudra tidak sekadar menampilkan hiburan, tetapi juga menghadirkan upaya pelestarian cerita rakyat dalam format yang komunikatif dan relevan.

Legenda Baturaden pun kembali dihidupkan, bukan sebagai kisah masa lalu yang usang, melainkan sebagai narasi budaya yang terus tumbuh bersama zaman.

(naf/kho)