BANYUMAS, ifakta.co – Kesenian tradisional Banyumasan kembali dipentaskan dalam rangkaian Banyumas Culture Festival pada peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas ke-455.

Ebeg garap fragmen tari “Sirnaning Angkara Murka” yang dibawakan Beruk Budoyo sukses dipentaskan di Lapangan Heterospace Purwokerto, pada Minggu (15/2) sore.

Penampilan tersebut merupakan kolaborasi bersama kelompok Satria Turangga Kencana dan Turonggo Jati Pabuaran, yang dikenal aktif dalam pelestarian kesenian ebeg dan jaranan khas Banyumas.

Iklan

Dalam pementasan ini, ebeg tidak hanya ditampilkan sebagai kesenian tradisional semata. Cerita “Sirnaning Angkara Murka” dibawakan dalam bentuk fragmen sehingga alurnya lebih mudah diikuti penonton, namun tetap mempertahankan ciri khas ebeg yang sarat unsur magis dan simbolik.

Salah satu pegiat seni sekaligus warga Banyumas yang turut menyaksikan, Suwarto (45), mengaku terkesan dengan konsep pertunjukan tersebut.

“Saya sering menyaksikan pertunjukan dengan tema ‘Sirnaning Angkara Murka’, tapi biasanya dari ketoprak atau pewayangan. Baru kali ini saya menonton versi ebegnya. Luar biasa, saya sangat mengapresiasi,” ujarnya.

Menurutnya, makna yang terkandung dalam tema tersebut sangat relevan dan kuat secara filosofis.

“Setahu saya dan dari apa yang saya tangkap, sirnaning angkara murka ini mengandung makna hilangnya, musnahnya, atau lenyapnya sifat-sifat buruk, keserakahan, keangkuhan, dan nafsu jahat dalam diri manusia atau dunia,” ujarnya.

Ungkapan ini kata dia sering melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, di mana perilaku keji akan mendapatkan balasan tragis dan kebenaran pada akhirnya akan menang.

Ia menilai, penyajian dalam bentuk ebeg memberikan warna baru dalam penyampaian pesan moral tersebut, sekaligus memperkaya khazanah pertunjukan tradisi di Banyumas.

(naf/kho)