JAKARTA, ifakta.co – Harga emas bergerak stabil pada awal perdagangan Asia, Jumat (13/2), setelah sebelumnya tergelincir di bawah level kunci di tengah meningkatnya ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, sebagai petunjuk lanjutan mengenai kebijakan moneter.
Iklan
Logam mulia yang selama ini menjadi aset lindung nilai menghadapi tekanan setelah ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve kembali dipertanyakan. Sejumlah indikator ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan mendorong spekulasi bahwa bank sentral AS itu akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari proyeksi sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah menguat, sehingga menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Penurunan di bawah level psikologis penting memicu aksi ambil untung jangka pendek, sebelum akhirnya harga bergerak mendatar pada awal sesi Asia.
Sementara itu, harga perak juga menunjukkan stabilisasi setelah anjlok sekitar 10 persen pada sesi sebelumnya. Koreksi tajam itu memperpanjang tren pelemahan sejak awal bulan, menjadikan logam putih tersebut berada dalam posisi yang relatif rapuh.
Pelaku pasar menilai volatilitas masih akan membayangi perdagangan logam mulia dalam jangka pendek. Data inflasi AS yang akan datang dipandang krusial untuk mengukur seberapa besar ruang bagi Federal Reserve dalam menyesuaikan kebijakan suku bunga tahun ini.
Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda secara konsisten, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali menguat dan memberi ruang bagi emas untuk pulih. Namun, jika tekanan harga tetap tinggi, suku bunga berpotensi bertahan lebih lama dari sebuah skenario yang cenderung membatasi reli logam mulia.
Di tengah ketidakpastian itu, pasar kini bergerak dalam rentang sempit, menunggu angka-angka yang akan menentukan arah berikutnya.(FA)



