SEMARANG, ifakta.co – Orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES) menghadirkan gagasan segar dari Prof. Dr. Sri Rejeki Urip, M.Hum. yang menempatkan lirik lagu Perancis sebagai medium strategis dalam pembentukan kompetensi pragmatik pembelajar.

Dalam orasi berjudul “Model Konseptual Integratif Lirik Lagu sebagai Landskap Linguistik dan Pembentukan Kompetensi Pragmatik Bahasa Perancis Pembelajar”, Prof. Sri menegaskan bahwa bahasa tidak berhenti pada struktur tata bahasa.

“Bahasa bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah niat, emosi, dan makna yang hidup di balik tuturan,” ungkapnya di hadapan hadirin di Auditorium Prof. Wuryanto UNNES, Rabu (11/2/2026).

Iklan

Guru Besar bidang Pragmatik itu menyoroti persoalan klasik dalam pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Perancis. Menurutnya, mahasiswa kerap terjebak pada kondisi grammatically correct but pragmatically inappropriate benar secara tata bahasa, tetapi keliru secara makna dan konteks sosial budaya.

Ia mencontohkan bagaimana dalam praktik komunikasi, jawaban yang terdengar positif bisa saja menyimpan makna implisit untuk menjaga kesantunan.

Di sinilah pragmatik berperan, melampaui struktur gramatika menuju pemahaman maksud tersembunyi, tindak tutur, serta konteks sosial yang melingkupi ujaran.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Prof. Sri mengembangkan model konseptual integratif yang memadukan lirik lagu sebagai linguistic landscape atau landskap linguistik.

Lagu, menurutnya, adalah bahasa yang hidup, memuat emosi, ironi, strategi persuasi, dan makna tersirat yang tidak selalu ditemukan dalam buku tata bahasa.

Berdasarkan penelitiannya pada 2025, lirik lagu Perancis terbukti efektif sebagai objek pembelajaran karena ringkas namun kaya muatan pragmatik. Mahasiswa tidak hanya menerjemahkan teks, tetapi menganalisis implikatur, strategi kesantunan, hingga daya ilokusi dalam setiap bait.

Salah satu contoh yang diangkat adalah lagu klasik Perancis “Ne Me Quitte Pas”. Ia menunjukkan bagaimana repetisi frasa dalam lagu tersebut berfungsi sebagai strategi persuasi dan penegasan emosional.

Secara linguistik, pengulangan kata membangun lanskap mental penyesalan. Secara pragmatik, terdapat tindak tutur direktif dan komisif yang mengekspresikan permohonan sekaligus janji, bahkan dengan pelanggaran prinsip kesantunan demi mempertahankan relasi.

“Mahasiswa belajar menangkap makna yang tersembunyi. Belajar menjadi lebih peka dan berempati. Karena bahasa pada akhirnya adalah jembatan kemanusiaan,” tuturnya.

Ia juga mengaitkan gagasannya dengan konsep Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) yang menempatkan bahasa sebagai tindakan sosial yang berorientasi pada pembentukan makna, ketepatan sosiolinguistik, serta kompetensi plurilingual dan pluricultural.

Selain itu, eksplorasi linguistic landscape melalui tanda-tanda publik di Paris yang diteliti melalui media digital seperti Google Earth yang menunjukkan bahwa bahasa di ruang publik bukan sekadar informasi, melainkan representasi ideologi dan praktik budaya.

Implikasi pedagogis dari model ini, lanjutnya, adalah pergeseran pembelajaran bahasa dari teks statis menuju pendekatan dinamis, kultural, dan afektif. Pengajaran menjadi lebih interdisipliner, memadukan linguistik, sastra, budaya, hingga literasi kritis.

Di akhir orasinya, Prof. Sri menegaskan bahwa penggunaan lirik lagu bukan sekadar hiburan dalam kelas, melainkan instrumen pedagogis yang menghidupkan bahasa Perancis sebagai entitas budaya yang bermakna.

Orasi tersebut sekaligus menandai perjalanan akademik panjang Prof. Sri Rejeki Urip, yang dikenal sebagai pakar pragmatik dengan kontribusi riset lintas bahasa dan pengembangan literasi digital dalam pembelajaran bahasa.

Pengukuhan ini bukan hanya pengakuan atas capaian akademik, tetapi juga penegasan komitmen untuk menjadikan bahasa sebagai ruang empati dan kemanusiaan.

(naf/kho)