BEIJING, ifakta.co – Perdana Menteri China, Li Qiang, menyusuri jantung industri bahan langka di Provinsi Jiangxi bagian selatan, Selasa (10/2) waktu setempat.
Kunjungan yang dilaporkan kantor berita negara Xinhua itu tak sekadar inspeksi rutin, ia berbicara dalam bahasa yang lebih dalam. Bahasa mineral, strategi, dan masa depan kekuatan global.
Di balik pagar fasilitas pengolahan, tanah menyimpan unsur-unsur sunyi yang kini menjadi rebutan dunia. Bahan langka serta urat nadi teknologi modern, dari kendaraan listrik hingga sistem pertahanan kian memadatkan tarikan geopolitik antara Beijing dan Amerika Serikat.
Iklan
Langkah Li Qiang, demikian dibaca para pengamat, adalah sinyal terukur atas persaingan yang semakin rapat, sekaligus penegasan bahwa China menjaga kendali pada simpul strategisnya.
Jiangxi bukan sekadar titik di peta. Ia adalah perut bumi yang menghidupi rantai pasok global, tempat kebijakan industri bertemu kebijakan luar negeri.
Dalam kunjungan itu, Li Qiang menekankan pentingnya inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan menjadi kata-kata yang terdengar teknis, namun bermakna politis di tengah ketegangan pasokan mineral strategis dunia.
Ketika negara-negara berlomba mengamankan sumber daya, China memilih berbicara lewat langkah dengan hadir di lokasi, menguatkan industri, dan merawat pesan.
Di Jiangxi, pesan itu mengendap pelan, bahwa persaingan mineral bukan lagi gema jauh, melainkan denyut yang terasa hingga ke dasar tanah.(J0)



