JAKARTA, ifakta.co – Ia lahir dalam bayang-bayang kekuasaan yang tebal dan sunyi. Sebagai putra sulung dari pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-il, dan aktris ternama Song Hye-rim, Kim Jong-nam kecil tidak pernah benar-benar menjadi anak biasa. Ia dibesarkan bukan hanya oleh keluarga, melainkan oleh sistem dan oleh tembok-tembok tinggi Pyongyang yang tak memberi ruang bagi kebebasan, bahkan untuk sekadar bermain tanpa tatapan protokol.

Masa kecilnya adalah kisah tentang dua dunia. Di satu sisi, ia adalah pewaris darah dinasti yang didirikan oleh Kim Il-sung, sang kakek yang dielu-elukan sebagai “Pemimpin Agung.” Di sisi lain, ia hidup dalam status yang tidak sepenuhnya diakui.

Iklan

Hubungan ayah dan ibunya tak pernah diumumkan secara resmi di awal, membuat keberadaannya seperti bayangan di balik panggung besar politik Korea Utara.

Konon, Jong-nam kecil dikenal cerdas dan ingin tahu. Ia mengenyam pendidikan di luar negeri dengan identitas samaran. Bahkan di Moskow, lalu di Jenewa.

Di sanalah ia menyentuh dunia yang berbeda dari propaganda yang akrab di telinganya sejak kecil. Ia mengenal teknologi, film, permainan video, dan kebebasan yang tak pernah ditawarkan di tanah kelahirannya.

Dunia luar bukan lagi cerita musuh, ia menjadi kenyataan yang memikat.
Namun takdir dinasti tak mengenal ruang untuk pilihan pribadi. Pada akhir 1990-an, namanya sempat disebut-sebut sebagai calon penerus sang ayah.

Tetapi sejarah berbelok secara tiba-tiba pada 2001, ketika ia tertangkap di Jepang menggunakan paspor palsu, hendak mengunjungi Disneyland di Tokyo. Sebuah ironi yang getir dari seorang anak yang terlahir di tengah rezim paling tertutup di dunia, tertarik pada taman hiburan yang melambangkan kapitalisme.

Peristiwa itu bukan sekadar skandal kecil. Ia menjadi titik retak kepercayaan. Sejak saat itu, posisinya meredup. Tahta yang semula seakan dekat, perlahan menjauh.

Adiknya, Kim Jong-un, kemudian muncul sebagai figur baru yang dipoles dan dipersiapkan.
Kim Jong-nam pun hidup di pengasingan tak resmi. Ia berpindah-pindah antara Makau, Beijing, dan sejumlah kota Asia lainnya.

Dalam beberapa wawancara langka, ia terdengar lebih lunak dibanding citra keras keluarganya. Ia sempat mengisyaratkan bahwa reformasi ekonomi ala Tiongkok mungkin lebih realistis bagi Korea Utara. Sebuah pandangan yang, jika benar, terdengar seperti bisikan yang tak pernah boleh menjadi pidato.

Dan kemudian, Februari 2017, di terminal keberangkatan KLIA2, Malaysia, hidupnya berakhir dalam adegan yang nyaris seperti skenario film. Dua perempuan mendekatinya dan mengoleskan zat ke wajahnya.

Dalam hitungan menit, ia merasa pusing, sesak, dan akhirnya kolaps. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Otoritas Malaysia kemudian menyatakan bahwa zat yang digunakan adalah VX, agen saraf mematikan yang diklasifikasikan sebagai senjata kimia.

Dunia pun gempar. Nama Kim Jong-nam kembali mengemuka bukan sebagai calon pemimpin, bukan pula sebagai pembelot, melainkan sebagai korban dalam intrik yang tak sepenuhnya pernah terurai terang.

Beberapa tersangka diadili. Tuduhan dan bantahan silang berlangsung di panggung diplomatik. Korea Utara membantah keterlibatan. Malaysia terjebak dalam ketegangan hubungan bilateral.

Namun seperti banyak kisah yang bersentuhan dengan dinasti Kim, kabut tak pernah benar-benar terangkat seluruhnya.

Masa kecil Kim Jong-nam adalah prolog dari sebuah tragedi yang nyaris klasik dari putra mahkota yang tak pernah dinobatkan.

Ia tumbuh dengan hak istimewa, namun tanpa kepastian. Ia mencicipi dunia luar, namun tak pernah benar-benar bebas darinya.

Hidupnya bergerak di antara dua kutub kekuasaan dan keterasingan.
Dalam sejarah politik modern, ia mungkin hanya satu nama di antara banyak intrik. Namun sebagai manusia, ia adalah potret tentang bagaimana garis darah dapat menjadi berkah sekaligus beban.

Seorang anak yang lahir di puncak piramida kekuasaan, tetapi wafat sendirian di sebuah bandara asing yang jauh dari tanah yang dahulu mungkin disiapkan untuknya. (FA)