SEMARANG, ifakta.co – Pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Ia adalah simbol identitas, harga diri, sekaligus representasi eksistensi seseorang di tengah masyarakat.

Gagasan itulah yang ditegaskan Prof. Dr. Nugroho Trisnubrata, S.Sos., M.Hum. dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Antropologi Pembangunan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rabu (11/2/2026).

Dalam pidato berjudul “Bekerja Menjadi Representasi dan Eksistensi Diri: Perspektif Antropologi terhadap Dinamika Pembangunan Ketenagakerjaan”, ia mengajak hadirin melihat pembangunan ketenagakerjaan bukan hanya sebagai persoalan statistik dan angka pertumbuhan, tetapi sebagai persoalan manusia, budaya, dan keberlanjutan hidup.

Iklan

Ia membuka orasinya dengan kisah seorang perempuan yang menyamar sebagai pramugari karena malu telah ditipu calo tenaga kerja.

Ada pula cerita seorang peneliti yang sempat dianggap kurang bergengsi dibanding profesi dokter. Bagi Prof. Nugroho, dua kisah itu menunjukkan bahwa pekerjaan memiliki makna sosial yang jauh melampaui fungsi ekonominya.

“Bekerja menjadi representasi dan eksistensi diri manusia,” tegasnya.

Pembangunan sebagai Ideologi

Menurutnya, pembangunan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan sebuah ideologi developmentalism, yang lahir kuat pasca Perang Dunia II, salah satunya melalui Marshall Plan.

Namun sejak 1970-an, paradigma pembangunan mulai dikoreksi melalui konsep sustainable development yang menekankan kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan.

Dalam perspektif antropologi, pembangunan harus dipahami dari cara masyarakat memaknai kerja. Mengutip Clifford Geertz, ia menjelaskan pembagian masyarakat Jawa abangan, santri, dan priyayi yang salah satunya dibedakan dari jenis pekerjaan. Profesi pegawai (priyayi) dianggap paling bergengsi karena identik dengan kerja “halus” dan status sosial tinggi.

Imajinasi menjadi pegawai negeri, menurutnya, masih kuat hingga kini. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga simbol mobilitas sosial dan kehormatan.

Budaya Kerja dan Makna Sosial

Prof. Nugroho juga menyoroti budaya bekerja dalam masyarakat Jawa, termasuk tradisi kerja tanpa upah seperti gotong royong, sambatan, rewang, dan gugur gunung. Praktik tersebut menunjukkan bahwa kerja memiliki dimensi sosial dan kultural yang kuat, tidak selalu berorientasi pada materi.

“Secara ekonomi manusia bekerja untuk mendapatkan upah. Tetapi secara sosial dan kultural, pekerjaan membangun identitas dan menegaskan posisi seseorang dalam struktur sosial,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika seseorang memilih suatu pekerjaan, ia sesungguhnya sedang menyesuaikan diri dengan budaya kerja tertentu, bahkan mengorbankan sebagian kebebasan pribadinya demi beradaptasi.

Wilayah Pinggiran sebagai Masa Depan Ketenagakerjaan

Sebagai antropolog pembangunan, Prof. Nugroho banyak meneliti wilayah marginal daerah pertambangan, pertanian dataran tinggi, dan kawasan perbatasan negara. Penelitiannya dilakukan di Mimika, Sumatera Selatan, Bojonegoro, Wonosobo, Agam, Sanggau, hingga Nunukan.

Ia menilai lapangan kerja justru terbuka luas di wilayah-wilayah pinggiran tersebut. Namun, pengelolaannya belum maksimal. Pemerintah, menurutnya, perlu melihat potensi daerah marginal sebagai ruang strategis pembangunan ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

“Pembangunan tidak boleh meninggalkan manusia dan lingkungannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang memahami budaya, nilai, dan cara hidup masyarakat setempat.

Profil Singkat Prof. Dr. Nugroho Trisnubrata, S.Sos., M.Hum.

Prof. Dr. Nugroho Trisnubrata lahir di Sleman, 14 Januari 1971. Ia menempuh seluruh pendidikan antropologinya di Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar Doktor Ilmu Humaniora.

Pengalaman akademik internasionalnya diperoleh melalui program Sandwich-Like S3 di Universitas Leiden, Belanda.

Sebagai akademisi, ia aktif meneliti isu-isu antropologi pembangunan, khususnya di wilayah marginal seperti daerah perbatasan, kawasan pertambangan, dan pertanian dataran tinggi.

Risetnya banyak dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi serta dituangkan dalam buku-buku tentang budaya bertani, pendidikan perbatasan, dan relasi kuasa dalam distribusi hasil pertanian.

Selain aktif dalam penelitian, ia juga terlibat dalam pengabdian masyarakat, memberdayakan petani, mendampingi guru di wilayah perbatasan, dan mengembangkan pertanian organik berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

(naf/kho)