SEMARANG, ifakta.co – Di tengah riuh warna dan ragam medium yang dipamerkan, sejumlah karya dalam Pameran Seni Rupa yang diadakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMP Kota Semarang menghadirkan cerita dan gagasan yang kuat dari para penciptanya.

Tak sekadar memamerkan hasil goresan kuas atau olahan visual, para guru dan siswa SMP di Kota Semarang menuangkan identitas, imajinasi, hingga pesan moral ke dalam setiap karya.

Mulai dari interpretasi tradisi Dugderan hingga lanskap Kota Semarang saat senja, berikut beberapa karya dalam Pameran Seni Rupa yang diselenggarakan di Gedung Baru Ki Narto Sabdo TBRS, Jalan Sriwijaya No. 29, Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, beserta penjelasan dan filosofi dari para pembuatnya (10/2).

Iklan

1. Achmad Choirul Huda – Siswa SMP PGRI 01 Semarang

Judul: “Semarang dalam Harmoni”

Melalui karya ini, Achmad Choirul Huda menggambarkan Kota Semarang sebagai ruang yang memadukan sejarah, budaya, dan kehidupan modern dalam satu kesatuan yang selaras. Berbagai ikon kota dan bangunan bersejarah ditampilkan dalam satu komposisi, seolah berdialog dalam harmoni visual.

Karya ini menekankan bahwa perbedaan, baik arsitektur, latar sejarah, maupun dinamika masyarakat yang tidak selalu melahirkan pertentangan. Justru dari keberagaman itulah lahir identitas kota yang kuat.

“Saya ingin menggambarkan Semarang sebagai kota yang memiliki keseimbangan antara sejarah dan budaya. Berbagai ikon kota dan bangunan bersejarah saya satukan dalam satu karya untuk menunjukkan bagaimana perbedaan bisa berdampingan secara selaras. Harmoni ini mencerminkan identitas Semarang sebagai kota yang kaya akan nilai sejarah, toleransi, dan dinamika kehidupan”, ujar Huda.

Melalui “Semarang dalam Harmoni”, Achmad tidak hanya menampilkan lanskap kota, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan, toleransi, dan keberagaman sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Semarang dalam Harmoni (istimewa)

2. Amelia – Guru SMPN 25 Semarang

Judul: “Pamore Dugderan ing Semarang”

Karya batik ini mengangkat tradisi Dugderan sebagai identitas khas Kota Semarang. Amelia memadukan unsur budaya lokal dengan motif parang pamor, yang sarat makna kekuatan dan kesinambungan.

Ia menjelaskan bahwa penggabungan motif tersebut menjadi simbol harapan agar tradisi Dugderan tetap memiliki “pamor” dan tidak pernah hilang ditelan zaman.

“Saya terinspirasi dari tradisi khas Kota Semarang, Dugderan, yang selalu ada setiap tahun. Saya juga menggabungkan parang pamor agar pamor tradisi ini tidak pernah hilang. Pesan saya, semoga para apresiator ikut melestarikan tradisi ini sampai ke anak cucu kelak.”

Melalui karya ini, Amelia menegaskan bahwa seni bukan sekadar estetika, melainkan media menjaga warisan budaya.

Gambar: Pamore Dugderan ing Semarang (Istimewa)

3. Annabe Michelle Sanjaya – Mentor Eagle School PKBM Semarang

Judul: “Semarang di Kala Senja”

Lukisan ini menghadirkan potret keindahan arsitektur Kota Semarang saat senja. Warna-warna hangat yang menggambarkan langit sore menjadi penekanan suasana reflektif dan tenang.

Annabe mengaku terinspirasi dari pesona bangunan-bangunan kota yang sering kali terlewatkan dalam rutinitas sehari-hari.

“Saya terinspirasi dari indahnya bangunan Kota Semarang. Pesannya, mari kita berhenti sejenak untuk melihat betapa indahnya kota ini.” Karya ini seperti ajakan sederhana namun kuat: sebelum mencari keindahan jauh-jauh, lihatlah kota sendiri dengan sudut pandang yang baru

Gambar: Semarang di Kala Senja (Istimewa)

4. Zifara – Siswi SMPN 27 Semarang

Judul: “Lost World”

Berbeda dari karya sebelumnya yang kental nuansa budaya, “Lost World” lahir dari dunia imajinasi masa kecil. Zifara menuangkan gagasan tentang ruang imajinatif yang bebas dari batasan logika orang dewasa.

“Terinspirasi dari imajinasi saya waktu kecil. Pesannya tentang imajinasi anak yang begitu luas dan tidak didasari logika orang dewasa. Namun seiring waktu, imajinasi itu mulai meredup.”

Karya ini menjadi refleksi bahwa kreativitas anak bersifat murni dan tak terbatas dan justru sering terkikis ketika tumbuh dewasa.

Gambar: Lost World (Istimewa)

5. Andien Aurelia – Siswi SMPN 18 Semarang

Judul: “Barong Bali”

Melalui lukisan Barong Bali, Andien mengangkat simbol kebaikan yang melawan energi negatif. Sosok Barong dikenal sebagai representasi kekuatan positif dalam kebudayaan Bali.

“Saya terinspirasi dari kesenian dan kebudayaan Bali, khususnya sosok Barong yang dikenal sebagai simbol kebaikan melawan energi negatif. Saya ingin menyampaikan bahwa kebaikan selalu melawan kejahatan. Dengan lukisan ini, saya berharap bisa menjaga nilai kebudayaan dan menanamkan hal-hal baik dalam kehidupan sehari-hari.”

Karya ini menunjukkan bahwa generasi muda tak hanya menampilkan teknik, tetapi juga kesadaran nilai moral dan budaya.

Gambar: Barong Bali (Istimewa)

Masih banyak karya lainnya dengan gagasan dan pesan yang tak kalah menarik untuk diapresiasi. Seluruh karya dapat disaksikan secara langsung di pameran yang digelar di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Informasi lebih lanjut sekaligus proses lelang karya juga dapat diikuti melalui akun Instagram @rasanyalelangkarya.

(naf/kho)