SEMARANG, ifakta.co – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Kota Semarang memiliki satu ikon budaya yang selalu hadir dan dilestarikan: Warak Ngendog.

Hewan mitologi ini bukan sekadar maskot perayaan, melainkan simbol sarat makna yang merepresentasikan pesan moral, keberagaman budaya, dan ajakan menjaga kesucian diri selama Ramadan.

Secara etimologis, istilah warak kerap dikaitkan dengan kata dalam bahasa Arab yang bermakna suci, sementara ngendog berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertelur. Jika digabungkan, Warak Ngendog dimaknai sebagai ajakan untuk menjaga kesucian diri dan melahirkan kebaikan, terutama selama bulan Ramadan.

Iklan

Namun, pemaknaan Warak Ngendog tidak berhenti di situ. Dalam bahasa Jawa, warak juga kerap dimaknai sebagai binatang mitos bertanduk yang menyerupai badak. Ada pula pandangan yang menyebut kata warak berasal dari buraq, hewan tunggangan Nabi Muhammad SAW. Beragam tafsir ini justru memperkaya makna Warak Ngendog sebagai simbol lintas budaya dan keyakinan.

Karakteristik Fisik yang Sarat Simbol

Warak Ngendog dikenal memiliki bentuk unik hasil penggabungan berbagai unsur hewan. Kepalanya kerap digambarkan menyerupai naga, sebagai hasil distorsi dan stilasi dari ular, singa, dan kijang. Dalam versi lain, kepala Warak Ngendog disebut menyerupai kilin, hewan mitologi suci dalam budaya China.

Tubuhnya merupakan gabungan mamalia seperti sapi atau kambing, dengan empat kaki unggas yang dilengkapi cakar tajam. Ekor Warak Ngendog digambarkan menyerupai ekor singa atau sapi. Seluruh tubuhnya diselimuti bulu-bulu yang menempel terbalik dengan warna-warna mencolok, mulai dari merah, kuning, hingga putih terang.

Ciri paling khas dari Warak Ngendog adalah keberadaan telur yang terletak di antara dua kaki belakangnya. Dari sinilah nama ngendog berasal, sekaligus menjadi simbol lahirnya kebaikan dan harapan baru di bulan Ramadan.

Dalam buku Cryptozoology Indonesia karya Dafiq Rohman, dijelaskan bahwa Warak Ngendog juga memiliki beberapa versi visual lain. Salah satunya menampilkan kepala naga sebagai representasi budaya China, tubuh Buraq sebagai simbol Islam, serta unsur kambing yang melambangkan budaya Jawa. Versi lain bahkan menggambarkan kombinasi kepala naga, leher unta, perut naga, dan kaki kambing.

Makna Filosofis di Balik Warak Ngendog

Warak Ngendog melambangkan budaya dan etnis Jawa sebagai mayoritas masyarakat Semarang. Lehernya dianalogikan dengan unta, hewan khas Timur Tengah yang dikenal memiliki daya tahan luar biasa.

Posisi leher dipandang penting karena menjadi penanda kehidupan. Sementara itu, perut Warak Ngendog disimbolkan seperti naga atau liong, penjaga mustika yang melambangkan kemuliaan dan derajat luhur manusia.

Empat kaki Warak Ngendog memiliki makna sebagai empat pilar penopang kehidupan, yakni keagamaan, kemandirian, keterbukaan, dan kesejajaran. Pilar-pilar ini menjadi pengingat nilai-nilai yang perlu dijaga selama menjalani ibadah Ramadan.

Warak Ngendog dalam Tradisi Dugderan

Keberadaan Warak Ngendog tak bisa dilepaskan dari Tradisi Dugderan, sebuah tradisi khas Semarang untuk menyambut bulan suci Ramadan. Dugderan diyakini telah ada sejak tahun 1881–1889, ketika Semarang dipimpin oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat.

Nama Dugderan berasal dari bunyi bedug di Masjid Besar Semarang (dug) dan dentuman meriam (der). Kedua bunyi tersebut menjadi penanda resmi dimulainya Ramadan di Kota Semarang.

Rangkaian Dugderan diawali dengan Pasar Rakyat atau Megengan, yang digelar sekitar sepuluh hari sebelum puasa. Megengan berasal dari kata tamu dan ageng, yang dimaknai sebagai penyambutan tamu agung, yakni bulan Ramadan.

Pasar rakyat ini menjadi ruang pertemuan budaya, ekonomi, dan tradisi, di mana masyarakat menjajakan berbagai dagangan, termasuk mainan Warak Ngendog.

Prosesi berlanjut dengan Kirab Budaya, yang kini menjadi salah satu daya tarik utama Dugderan. Kirab dimulai dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang dengan Warak Ngendog sebagai maskot utama. Beragam kontingen turut memeriahkan kirab, mulai dari gamelan, pasukan berkuda, barongsai berkepala warak, hingga komunitas-komunitas budaya.

Puncak Dugderan ditandai dengan Pengumuman Shukhuf Halaqah, yakni penetapan awal Ramadan oleh Wali Kota Semarang berdasarkan hasil musyawarah keagamaan. Pengumuman ini diiringi tabuhan bedug dan bunyi mercon, sebagai penanda dimulainya bulan puasa sekaligus ajakan toleransi bagi seluruh masyarakat.

Melalui Warak Ngendog dan tradisi Dugderan, Semarang tidak hanya merayakan datangnya Ramadan, tetapi juga merawat nilai kesucian, keberagaman, dan kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.

(naf/kho)