SEMARANG, ifakta.co Puisi “Apakah Kartini” karya Sosiawan Leak yang ditulis di Solo, 25 April 2004 mengajak pembaca merenungkan kembali makna emansipasi perempuan di Indonesia. Puisi ini ditulis sebagai dialog imajiner dengan sosok R.A. Kartini, bukan sekadar penghormatan terhadap pahlawan emansipasi tersebut, tetapi juga menjadi cermin kritis atas kondisi perempuan di era modern.

Alih-alih merayakan kemajuan perempuan secara euforia, puisi ini justru mengkaji ulang tentang sudah sejauh mana emansipasi benar-benar memberi makna bagi kehidupan perempuan?

Kartini sebagai Cermin Zaman

Iklan

Dalam puisi ini, Kartini diposisikan bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol moral dan cita-cita. Setiap pertanyaan yang diajukan kepada Kartini sesungguhnya diarahkan kepada pembaca masa kini. Penyair seolah bertanya, jika Kartini hidup hari ini, apakah ia bangga, sedih, atau justru bingung?

Pengulangan sapaan “Kartini” di awal bait membangun kesan menggugah. Ini bukan monolog kosong, melainkan percakapan batin lintas zaman.

Antara Kemajuan dan Keterbatasan

Pada bagian awal, penyair menyinggung perempuan di ranah sains dan teknologi. Impian menjadi astronot yang kandas karena usia serta ketergantungan teknologi pada negara lain memberi sinyal bahwa kesempatan memang terbuka, tetapi belum sepenuhnya ditopang.

Ini menyiratkan bahwa emansipasi bukan hanya soal izin atau peluang, melainkan juga kesiapan negara dan lingkungan.

Realitas Sosial yang Menyayat

Bagian paling tajam muncul ketika penyair menyinggung ibu rumah tangga yang terjerat narkoba demi ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Di sini, perempuan digambarkan sebagai pihak yang sering menanggung beban sosial-ekonomi.

Sosiawan Leak seperti ingin mengatakan bahwa emansipasi tidak otomatis menghapus penderitaan struktural.

Tubuh Perempuan dan Komodifikasi

Ketika remaja perempuan disebut “kehormatannya diobral murah”, puisi menyentuh isu eksploitasi dan komersialisasi tubuh perempuan. Sosiawan ingin menunjukkan bahwa kebebasan tanpa perlindungan bisa berubah menjadi kerentanan.

Martabat perempuan, yang dulu diperjuangkan Kartini lewat pendidikan dan pemikiran, kini diuji oleh realitas sosial yang menyakitkan.

Kebingungan Makna Emansipasi

Menuju akhir, puisi mencapai titik refleksi paling dalam, generasi sekarang disebut “linglung” memaknai emansipasi, bahkan mulai jauh dari pemahaman tentang Kartini itu sendiri. Ini kritik halus terhadap masyarakat yang merayakan simbol, tetapi lupa substansi.

Emansipasi akhirnya tampak sebagai istilah yang sering diucapkan, namun belum selalu dipahami.

Perempuan dan Peran Ganda

Penutup puisi menyoroti perempuan modern sebagai “wanita berkelamin ganda”, ibu rumah tangga sekaligus pekerja. Frasa ini bukan soal identitas gender, melainkan metafora beban ganda. Perempuan dituntut produktif di ruang publik, tetapi tetap memikul tanggung jawab domestik.

Di sinilah puisi terasa paling relevan hingga hari ini.

(naf/kho)