MADINAH, ifakta.co – Nama Albert Einstein kerap dipanggil sejarah sebagai lambang kejernihan akal. Ia adalah mata yang menatap semesta dengan rumus, telinga yang mendengar dentum kosmos sebagai harmoni. Maka ketika beredar kisah bahwa Einstein pernah membuka lembar-lembar Al-Qur’an, publik pun terbelah. Antara percaya, ragu, dan bertanya lebih dalam.

Beberapa klaim narasi menyebutkan adanya hubungan antara pemikiran ilmiah Albert Einstein dan ayat-ayat Al-Quran, khususnya terkait teori relativitas waktu yang dianggap sejalan dengan QS. Al-Hajj: 47 dan As-Sajdah: 5

Iklan

Kisah itu, entah benar sepenuhnya atau sekadar gema dari hasrat manusia mencari pertemuan iman dan nalar, menyisakan satu perkara penting, serta kerinduan pada makna.

Einstein sendiri berkali-kali menegaskan bahwa sains tanpa nilai akan timpang, dan agama tanpa nalar berisiko buta.

Dalam celah itulah, Al-Qur’an sebagai teks yang menantang manusia untuk berpikir, merenung, dan membaca tanda-tanda alam yang sering dipahami bukan sekadar kitab ibadah, melainkan undangan intelektual.

Tentang ramalan “Barat akan luluh lantah”, barangkali ia bukan nubuat literal yang menunggu tanggal. Ia lebih menyerupai peringatan moral.

Peradaban tidak runtuh oleh musuh dari luar semata, melainkan oleh retaknya kompas etika di dalam keserakahan yang mengeras, teknologi yang berlari tanpa kebijaksanaan, dan kemajuan yang menafikan kemanusiaan.

Jika barat atau siapa pun yang mengukur kejayaan hanya dengan angka dan kekuatan, maka keruntuhan itu bukan kutukan, melainkan konsekuensi.

Einstein, dalam banyak surat dan pernyataannya, mengingatkan dunia agar tak memisahkan kecerdasan dari tanggung jawab.

Al-Qur’an, dalam bahasa yang puitik sekaligus tegas, mengajak manusia membaca alam sebagai ayat dan tanda, bukan sekadar objek. Keduanya bertemu pada satu simpul, yakni akal yang tunduk pada nurani.

Maka kolom ini tidak hendak mengukuhkan klaim, melainkan mengajak merenung. Bahwa peradaban apa pun. Baik barat, timur, atau yang mengaku netral akan bertahan sejauh ia merawat keadilan, membatasi kesombongan, dan menautkan ilmu dengan hikmah.

Jika tidak, runtuhnya bukan soal siapa membaca kitab apa, melainkan siapa yang lupa membaca dirinya sendiri.(J0)