JAKARTA, ifakta.co – Sejumlah pihak yang terlibat dalam rangkaian Pemilihan Raya Universitas Indonesia (Pemira UI) dilaporkan mengalami teror siber hingga fisik usai pelaksanaan pemilihan.

Teror tersebut menyasar Ketua BEM UI terpilih periode 2026, Wakil Ketua BEM UI 2026, serta Project Officer (PO) Pemira UI 2025.

Ketua BEM UI 2026 terpilih, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengungkapkan bahwa dirinya mulai menerima ancaman setelah diumumkan sebagai Ketua BEM UI 2026. Ia menyebut teror tidak hanya ditujukan kepadanya, tetapi juga kepada keluarganya.

Iklan

“Sejauh ini terornya nambah, enggak hanya serangan siber saja. Serangan siber sudah kena ke gua sama Fath, termasuk keluarga, tapi sekarang kita juga dikirimin paket-paket yang tidak kita beli dan berbentuk COD,” ujar Athof saat diwawancarai pada Jumat (16/1/2026).

Athof menjelaskan, pada hari yang sama, keluarganya menerima dua paket COD dengan nilai transaksi sekitar Rp2 juta. Setelah dilakukan penelusuran terhadap nomor resi, diketahui salah satu paket tersebut berisi topeng. Ia pun mengingatkan keluarganya agar tidak membayar paket yang tidak pernah dipesan.

Teror kembali terjadi pada Jumat (16/1/2026) sekitar pukul 16.20 WIB, ketika keluarganya kembali menerima paket COD misterius lainnya dengan nilai transaksi cukup besar meski berukuran kecil.

Selain teror fisik, Athof juga mengalami peretasan pada nomor WhatsApp pribadinya. Akun tersebut digunakan oleh pelaku untuk mengirimkan pesan ancaman kepada keluarga dan sejumlah kontaknya, disertai video yang memperlihatkan seolah-olah foto Athof menjadi sasaran penembakan.

“Isi pesannya menekan saya untuk mengundurkan diri dari jabatan Ketua BEM UI 2026. Kalau tidak, terornya akan terus dilanjutkan,” ungkap Athof, dikutip Senin (19/1/2026).

Hingga saat ini, nomor WhatsApp Athof masih berada dalam kondisi diretas dan belum dapat digunakan secara normal.

Teror serupa juga dialami oleh Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra. Ia menyampaikan bahwa nomor WhatsApp ayahnya diretas oleh orang tidak dikenal dan digunakan untuk menyebarkan pesan serta video ancaman ke keluarga dan lingkungan sekitar.

“Pesan dan videonya sampai dikirim ke grup RT-RW lingkungan rumah juga, selain ke grup keluarga,” ujar Fathimah saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Jumat (16/1/2026).

Akibat peristiwa tersebut, keluarga dan tetangga Fathimah sempat kebingungan dan merasa resah. Dalam kasus teror paket, Fathimah mengaku menerima kiriman COD berisi alat pemotong tanaman senilai sekitar Rp200 ribu, serta paket lain berupa kursi roda. Karena mencurigai adanya unsur ancaman, paket-paket tersebut langsung ditolak.

Sementara itu, Project Officer Pemira UI 2025, Muhammad Nur Ihsan, juga melaporkan bahwa dirinya menerima berbagai bentuk teror sehari setelah Grand Closing Pemira UI 2025 pada 12 Januari 2026. Ia mengungkapkan hal tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @nuriihsann.

Ihsan menyebut pesan ancaman yang diterimanya berisi tudingan bahwa dirinya berpihak pada salah satu pasangan calon. Menanggapi hal itu, Ihsan membantah seluruh tuduhan tersebut.

“Tuduhan seperti ini sebenarnya sudah sering saya terima selama menjabat sebagai PO Pemira UI 2025. Saya pastikan panitia bekerja netral, independen, dan tidak memihak,” ujar Ihsan saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Rabu (15/1/2026).

Selain teror daring, Ihsan juga mengaku menerima kiriman kardus berisi tulisan ancaman yang diletakkan di depan kosannya pada malam hari setelah Grand Closing. Ancaman tersebut menuntutnya untuk memenangkan pasangan calon tertentu dan disertai ancaman balasan apabila permintaan tidak dipenuhi.

Tidak hanya itu, Ihsan juga mengaku mengalami intimidasi fisik pada Selasa (13/1/2026) dini hari. Ia menceritakan bahwa dirinya sempat dihentikan oleh seseorang bermotor tanpa pelat nomor dan lampu kendaraan saat hendak pulang ke kos sekitar pukul 00.30 WIB.

“Dia enggak pakai pelat nomor, lampunya mati, terus menodongkan senjata sambil ngancam, kurang lebih bilang, ‘awas aja lu macam-macam’,” tuturnya.

Hingga kini, Ihsan mengaku belum mengetahui siapa pelaku di balik rangkaian teror yang dialaminya dan memilih untuk tidak berspekulasi karena belum memiliki bukti yang cukup.

Di sisi lain, Sabiq, kandidat pasangan calon nomor urut 01 pada Pemira BEM UI 2026, turut menyampaikan pernyataan melalui unggahan Instagram @muhmdshabi1 pada Kamis (15/1/2026). Ia menduga teror berasal dari pihak eksternal yang memiliki kepentingan tertentu.

“Saya sangat menyayangkan jika ada upaya-upaya untuk menunjuk saya sebagai aktor dari segala bentuk ancaman yang terjadi,” ujarnya.

Sabiq juga mengimbau agar sesama mahasiswa UI tidak saling tuding dan tetap menjaga solidaritas di tengah situasi yang berkembang.

(naf/kho)