JAKARTA, ifakta.co – Harga emas kembali menorehkan kilau tajam di awal pekan, melanjutkan reli kuat yang telah dibangun sejak pekan lalu.

Logam mulia itu menjadi pelabuhan aman di tengah gelombang ketidakpastian global, dipicu oleh risiko geopolitik seputar Greenland serta spekulasi pasar atas peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Iklan

Sentimen menguat setelah Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terkait rencana Amerika Serikat untuk mengakuisisi Greenland. Trump menyebut akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana tersebut, sebuah pernyataan yang segera mengguncang pasar dan menghidupkan kembali memori perang dagang era sebelumnya.

Dalam skema yang disampaikan, Washington akan mengenakan tarif sebesar 10 persen terhadap barang-barang dari negara-negara terdampak mulai 1 Februari.

Ancaman itu tidak berhenti di sana. Jika hingga Juni tidak tercapai kesepakatan, tarif disebut akan melonjak hingga 25 persen. Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal eskalasi ketegangan yang berpotensi menekan perdagangan global.

Di tengah lanskap yang retak oleh risiko politik tersebut, emas kembali dipeluk sebagai aset lindung nilai. Investor memilih menjauh dari instrumen berisiko, sembari menanti arah kebijakan moneter.

Spekulasi mengenai penurunan suku bunga semakin menguat, terutama setelah serangkaian data ekonomi global memberi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan.

Kombinasi ancaman tarif, ketegangan geopolitik, dan harapan biaya pinjaman yang lebih murah menjadi angin segar bagi emas. Kilau logam kuning itu pun seolah menegaskan kembali perannya, ketika dunia berisik oleh retorika dan ketidakpastian, emas berbicara dengan bahasa yang paling dipahami pasar. (FA)