JAKARTA, ifakta.co – Novel Broken Strings karya Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan luas di ruang publik setelah memoar tersebut viral di berbagai platform media sosial.

Buku ini menuai perhatian bukan hanya karena kisah personal yang diangkat, tetapi juga karena respons sejumlah pihak yang merasa tersentil, meskipun novel tersebut tidak secara eksplisit menyebut nama asli.

Roby Tremonti (Foto:Istimewa)

Broken Strings merupakan memoar yang mengisahkan pengalaman pedih Aurelie Moeremans di masa remajanya. Novel yang dirilis pada tanggal 10 Oktober 2025 ini disusun dalam bentuk refleksi personal yang menyoroti isu grooming, manipulasi, ancaman, serta dampak psikologis jangka panjang yang ditimbulkan.

Iklan

Sejak dirilis dan dibagikan secara nonkomersial, karya ini memantik empati pembaca sekaligus membuka diskusi publik tentang pentingnya kesadaran terhadap relasi yang timpang dan berbahaya.

Menariknya, dalam Broken Strings Aurelie tidak mencantumkan nama asli pihak-pihak yang terlibat dalam kisah hidupnya. Namun demikian, viralnya novel ini justru diikuti dengan munculnya klarifikasi dari Robby Trimoti di ruang publik.

Klarifikasi tersebut kemudian menjadi sorotan warganet, yang menilai respons itu sebagai reaksi berlebihan terhadap karya yang sejatinya tidak menyebut nama siapa pun secara eksplisit.

Respons Robby Trimoti terhadap polemik Broken Strings tidak berhenti pada pernyataan singkat di media sosial.

Ia bahkan menggelar klarifikasi dengan mengundang sejumlah wartawan. Dalam kesempatan tersebut, Robby menyampaikan bantahannya terhadap spekulasi publik, salah satunya dengan menyatakan.

“Seram banget kalau memang ada tokoh Bobby di dunia nyata, tapi bukan saya, karena nama saya tidak dicantumkan di buku,” kata Robby.

Pernyataan itu disampaikan dengan penekanan bahwa novel tersebut tidak merujuk pada dirinya. Namun, dalam wawancara yang sama, Robby juga memperlihatkan sejumlah dokumentasi pribadi, termasuk foto-foto pernikahan, sebagai bagian dari penjelasan yang ia ajukan kepada publik.

Langkah itu kemudian dinilai sebagian pihak sebagai bentuk respons yang justru memperluas tafsir terhadap keterkaitannya dengan narasi dalam buku, meskipun Broken Strings tidak menyebutkan identitas tokoh secara eksplisit.

Alih-alih meredam polemik, klarifikasi terbuka tersebut memicu srespons kritis dari warganet. Selain menyoroti inkonsistensi antara pernyataan bantahan dan tindakan yang ditampilkan, publik juga menanggapi momen emosional Robby dalam wawancara tersebut, termasuk saat ia menangis di hadapan wartawan.

Di media sosial, muncul komentar bernada satir seperti “berasa keluar dari PDF”, merujuk pada penggambaran tokoh “Bobby” dalam Broken Strings yang disebut mampu menampilkan emosi demi meraih simpati. Tak sedikit pula warganet yang menilai bahwa rangkaian klarifikasi tersebut “bukan sekadar klarifikasi, melainkan verifikasi,” karena dianggap justru menguatkan dugaan publik.

Frasa itu pun ramai digunakan, mencerminkan bagaimana persepsi warganet terbentuk dari cara, intensitas, dan detail respons yang ditampilkan di ruang publik.

(naf/kho)