SAUDI ARABIA, ifakta.co – Gurun belum sepenuhnya takluk, dan Sébastien Loeb paham betul akan hal itu. Pembalap legendaris asal Prancis tersebut kembali berdiri di garis start Rally Dakar, menandai partisipasinya yang ke-10 dalam ajang reli paling brutal di muka bumi. Sebuah perlombaan yang hingga kini masih menolak untuk sepenuhnya ia jinakkan.

Sejak debutnya pada 2016, Loeb bukanlah sekadar pelengkap. Statistiknya mencerminkan konsistensi dan daya juang luar biasa. lima kali finis di posisi tiga besar serta torehan 28 kemenangan etape. Namun, satu hal masih menjadi bayang-bayang panjang dalam karier reli lintas alam.

Setiap edisi Dakar selalu menghadirkan cerita baru, badai pasir, navigasi yang menguji insting, hingga kerusakan teknis yang bisa menghapus harapan dalam hitungan menit.

Iklan

Loeb telah merasakan semuanya. Ia pernah begitu dekat, namun nasib kerap berbelok di tikungan terakhir.

Dakar, bagi Loeb, bukan sekadar lomba, melainkan dialog panjang antara manusia, mesin, dan alam.

Memasuki partisipasi ke-10, Loeb datang bukan hanya dengan pengalaman, tetapi juga kedewasaan. Ia tak lagi sekadar mengejar kecepatan, melainkan membaca ritme reli dengan kesabaran seorang veteran.

Di usia dan jam terbang yang terus bertambah, tekadnya justru tak menunjukkan tanda surut.

“Dakar selalu memberi pelajaran baru,” kata Loeb dalam berbagai kesempatan sebelumnya. Dan tahun ini, pelajaran itu kembali diuji.

Gurun mungkin masih angkuh, tetapi Loeb kembali datang membawa harapan, ambisi, dan keyakinan bahwa suatu hari, Dakar akan menyerah pada ketekunan. (FA)