JAKARTA, ifakta.co – Bandung, awal 1970-an. Kota yang kerap dijuluki Paris van Java itu sedang menata wajahnya sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Jalan-jalan dipenuhi mahasiswa, kafe kecil, dan percakapan lintas bahasa.

Namun, di balik denyut romantisme kota, sebuah tragedi sunyi terjadi, peristiwa yang kelak dikenang sebagai Tragedi Rene Louis Conrad 1970.

Nama Rene Louis Conrad nyaris tak tercatat dalam buku sejarah resmi. Ia bukan tokoh politik, bukan pula figur publik. Namun kematiannya di Bandung menjadi serpihan ingatan kelam tentang kekerasan, prasangka, dan ketegangan sosial yang membayang di masa itu.

Iklan

Malam yang Mengubah Segalanya
Rene Louis Conrad, warga negara asing yang tinggal sementara di Bandung, dilaporkan tewas dalam situasi yang hingga kini menyisakan banyak tanda tanya.

Ia menjadi korban amuk massa dari sebuah ledakan kemarahan kolektif yang lahir dari kecurigaan, kabar simpang siur, dan sentimen terhadap orang asing yang kala itu mudah menyulut api.

Kesaksian yang beredar menyebutkan, Conrad dituduh tanpa proses hukum yang jelas. Dalam hitungan jam, tuduhan berubah menjadi hukuman jalanan. Malam itu, hukum seakan absen, digantikan oleh emosi dan ketakutan.

Tragedi ini tak bisa dilepaskan dari konteks sosial-politik Indonesia pasca-1960-an. Negara masih berusaha menata stabilitas. Keamanan sering dimaknai sebagai ketertiban mutlak, sementara kecurigaan terhadap “yang lain” tumbuh subur. Orang asing kerap dipandang dengan lensa curiga dan sebagai simbol ancaman, bukan tamu.

Dalam ruang sosial seperti itulah, Rene Louis Conrad kehilangan nyawanya. Bukan hanya karena pukulan dan tendangan, tetapi karena kegagalan kolektif untuk melindungi martabat manusia.

Sunyi dalam Catatan Sejarah
Tak ada monumen, tak ada peringatan tahunan. Tragedi ini hidup dari cerita ke cerita, dari arsip ke arsip yang berdebu. Ia menjadi luka kecil namun perih, tersembunyi di lipatan sejarah Bandung.

Bagi sebagian orang, peristiwa ini adalah cermin pahit tentang bahaya main hakim sendiri. Bagi yang lain, ia menjadi pengingat bahwa keadilan tidak boleh tunduk pada amarah massa.

Pesan Tragedi Rene Louis Conrad tetap relevan. Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya kesimpulan publik, peristiwa ini mengajarkan satu hal sederhana namun mendasar. Kemanusiaan harus selalu didahulukan.

Bandung telah berubah. Gedung menjulang, jalan melebar, generasi silih berganti. Namun ingatan tentang tragedi ini layak disimpan bukan untuk membuka luka lama, melainkan agar kota dan bangsanya tak lagi mengulang kesalahan yang sama. Karena sejarah, betapapun sunyinya, selalu berbicara kepada masa depan.(FA)