TEHERAN, Ifakta.co – Iran tengah berada dalam situasi darurat nasional menyusul gelombang demonstrasi besar-besaran yang menyebar ke lebih dari 100 kota sejak akhir Desember. Aksi protes yang awalnya bersifat sporadis kini berkembang menjadi krisis kemanusiaan, dengan laporan korban jiwa yang terus bertambah, fasilitas kesehatan yang kewalahan, serta pembatasan informasi yang hampir total.
Sejumlah dokter dan tenaga medis di berbagai rumah sakit mengungkapkan kondisi kritis yang mereka hadapi. Lonjakan pasien luka, sebagian besar akibat kekerasan saat pembubaran aksi, membuat rumah sakit beroperasi jauh melampaui kapasitas normal. Seorang dokter menyatakan bahwa sebuah rumah sakit mata di Teheran telah memasuki tahap krisis, sementara rumah sakit lain kekurangan tenaga ahli bedah untuk menangani pasien yang terus berdatangan.
“Jumlah korban jauh melampaui kemampuan kami,” ungkap seorang petugas medis. “Kami tidak hanya kekurangan peralatan, tetapi juga tenaga profesional yang memadai.”
Iklan
Situasi diperparah oleh pembatasan ketat terhadap peliputan media internasional serta pemadaman internet hampir total sejak Kamis malam. Kondisi ini membuat aliran informasi dari dalam negeri sangat terbatas, mempersulit verifikasi data, dan menimbulkan kekhawatiran bahwa skala sebenarnya dari korban tidak sepenuhnya terungkap ke publik global.
Berdasarkan pemantauan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, sejak demonstrasi dimulai pada 28 Desember, sedikitnya 50 demonstran dan 15 personel keamanan dilaporkan tewas. Selain itu, lebih dari 2.311 orang ditangkap dalam operasi keamanan yang digelar secara masif di berbagai kota.
Data serupa disampaikan oleh Organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHRNGO) yang bermarkas di Norwegia. Lembaga tersebut mencatat sedikitnya 51 demonstran meninggal dunia, termasuk sembilan anak-anak. Mereka menegaskan bahwa angka tersebut kemungkinan belum mencerminkan kondisi sebenarnya, mengingat banyak wilayah masih terisolasi secara komunikasi.
Kondisi paling mengkhawatirkan dilaporkan terjadi di Kota Rasht, Provinsi Gilan. Informasi yang berhasil diverifikasi menyebutkan bahwa sedikitnya 70 jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Poursina pada Jumat (9/1). Jumlah tersebut menyebabkan kamar jenazah tidak lagi mampu menampung jasad korban, menandakan skala kematian yang luar biasa dalam waktu singkat.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi dan komprehensif terkait jumlah korban tewas maupun luka-luka. Ketertutupan informasi, ditambah tekanan terhadap tenaga medis dan keluarga korban, menimbulkan kekhawatiran akan adanya upaya pembungkaman fakta di tengah eskalasi konflik domestik.
Para pemerhati hak asasi manusia internasional menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut. Mereka menilai penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran, termasuk anak-anak, berpotensi melanggar hukum internasional dan prinsip perlindungan warga sipil.
Sementara itu, masyarakat Iran di berbagai wilayah masih hidup dalam ketidakpastian. Rumah sakit berjuang di ambang kolaps, keluarga korban mencari kejelasan nasib kerabat mereka, dan dunia luar hanya dapat menyaksikan potongan-potongan informasi dari balik tirai sensor yang semakin rapat.
Gelombang demonstrasi ini kini tidak hanya menjadi ujian stabilitas politik Iran, tetapi juga menjadi ujian serius terhadap komitmen negara tersebut dalam menjunjung hak asasi manusia dan transparansi di tengah krisis nasional.



