DAMASKUS, ifakta.co  – Pasukan Amerika Serikat (AS) bersama negara-negara sekutunya melancarkan serangan berskala besar terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah, Sabtu (10/1/2026). 

Operasi militer ini menjadi respons atas serangan sebelumnya yang menewaskan tiga warga negara AS.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, operasi tersebut bertujuan menekan aktivitas terorisme sekaligus melindungi personel AS dan sekutu yang bertugas di kawasan. Dalam pernyataannya, Centcom menegaskan tidak akan mentoleransi serangan terhadap pasukannya.

Iklan

“Pesan kami jelas. Jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan dan menghukum Anda di mana pun berada,” demikian pernyataan Centcom.

Dalam operasi itu, pasukan AS dan sekutunya menembakkan lebih dari 90 amunisi presisi ke sedikitnya 35 sasaran. Serangan udara melibatkan lebih dari 20 unit pesawat tempur dan nirawak, termasuk F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9, serta jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Yordania.

Meski demikian, otoritas AS belum merinci lokasi pasti serangan maupun jumlah korban jiwa akibat operasi tersebut. Serangan ini juga disebut sebagai kelanjutan dari rangkaian operasi militer AS dan Yordania yang telah dilakukan sejak bulan lalu.

Serangan di wilayah Palmyra ini tercatat sebagai insiden besar pertama sejak lengsernya Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024. Personel AS yang menjadi target serangan sebelumnya diketahui terlibat dalam Operasi Inherent Resolve, misi koalisi internasional untuk memerangi ISIS.

Kelompok ISIS sempat menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak pada 2014 sebelum akhirnya dipukul mundur oleh pasukan darat lokal dengan dukungan serangan udara koalisi internasional. Meski demikian, ISIS masih dilaporkan memiliki kantong-kantong kekuatan, terutama di kawasan gurun Suriah.

Di sisi lain, kebijakan Washington terkait kehadiran militernya di Suriah terus menjadi sorotan. Presiden AS Donald Trump sejak lama menyuarakan keraguan atas keberlanjutan pasukan AS di negara tersebut. Pada masa jabatan pertamanya, Trump sempat memerintahkan penarikan pasukan, meski kemudian membatalkan sebagian rencana itu.

Pada April 2025, Pentagon mengumumkan rencana pengurangan hingga 50 persen jumlah pasukan AS di Suriah dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan, utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, pada Juni 2025 menyebut Washington berencana memangkas jumlah pangkalan militernya di Suriah hingga tersisa satu pangkalan saja.

(AMN)