JAKARTA, ifakta.co- Aksi damai buruh yang digelar di sekitar Istana Negara, Jakarta, pada Senin 29 Desember 2025, diwarnai pernyataan tegas dari Presiden Partai Buruh, Said Iqbal. Ia menilai aparat keamanan bertindak represif saat melakukan pengamanan terhadap massa buruh yang tengah menyuarakan aspirasinya.
“Kami melihat ada tindakan yang kami nilai berlebihan. Padahal aksi ini berjalan damai. Buruh hanya ingin menyampaikan pendapat secara konstitusional,” ujar Said Iqbal kepada wartawan di lokasi aksi.
Ia menegaskan, aparat seharusnya menghormati kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum yang dijamin undang-undang.
“Kebebasan berpendapat itu dilindungi negara. Karena itu kami berharap aparat mengedepankan pendekatan persuasif, bukan tekanan,” katanya.
Menurut Said Iqbal, sejumlah buruh mengaku mengalami dorong-dorongan saat berada di barikade pengaman. Hal ini dinilainya tidak sejalan dengan semangat demokrasi.
“Dialog itu penting. Kalau buruh semakin ditekan, suasana malah bisa makin panas. Kami tidak ingin itu terjadi,” ucapnya.
Dalam aksinya, para buruh menyuarakan berbagai tuntutan terkait kesejahteraan pekerja dan kebijakan ketenagakerjaan nasional. Massa sempat berada dalam barikade pengamanan di beberapa titik jalan menuju kawasan Istana Negara.
Said Iqbal juga meminta semua pihak menahan diri agar situasi tetap kondusif.
“Kami tetap komit pada aksi damai. Harapan kami, pemerintah membuka ruang komunikasi agar aspirasi buruh bisa didengar,” tuturnya.
Iklan
Sementara itu, salah satu peserta aksi mengaku tetap memilih bertahan karena ingin menyampaikan tuntutan secara langsung.
“Kami cuma mau suara kami didengar. Kami datang tertib, tidak anarkis,” ujar Andi (30), buruh yang ikut long march menuju kawasan Istana.
Hingga berita ini diturunkan, aksi berjalan tertib dan tidak terjadi bentrokan besar di lapangan. Perwakilan buruh masih menunggu ruang dialog dengan pemerintah untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung.

