BOGOR,-ifakta,.— Di sebuah lingkungan padat & sunyi di Kecamatan Kedung Halang, Bogor Utara, sebuah rumah kontrakan tiba-tiba berubah jadi panggung dramatis bagi aparat penegak hukum. Garis polisi membentang di depan gerbang, petugas lalu lalang membawa kantong barang bukti. Rumah itu biasa tampak biasa saja diungkap sebagai lokasi produksi mie basah kemasan dan kulit pangsit bermerek “Wayang”. Kini operasi tersebut digerebek, setelah dugaan kuat bahwa produk yang dihasilkan memakai bahan kimia berbahaya, bukan bahan pangan layak konsumsi.Sabtu 29/11/25

bermula dari laporan warga dan kecurigaan konsumen terhadap ciri fisik mie/pangsit murah di pasaran Bogor. Tim gabungan, termasuk dari Polresta Bogor Kota dan Dinas Perindustrian & Perdagangan setempat, selama satu pekan mengikuti alur distribusi dari kios, warung, hingga jejak produsen. Hasilnya: rumah kontrakan di Kedung Halang. Di situlah mesin produksi, bahan baku, dan bahan tambahan ditemukan.

Saat penggerebekan berlangsung, petugas mengamankan dua pekerja. Sementara pemilik usaha diyakini bertanggung jawab atas produksi sudah kabur, kabarnya ke luar kota. Penyelidikan pun terus dilakukan untuk membongkar skema distribusi serta jaringan yang mungkin lebih besar.

Iklan

Secara kesehatan, penggunaan tawas dalam makanan sangat tidak disarankan. Tawas yang mengandung aluminium sulfat sejatinya digunakan untuk penjernihan air, bukan sebagai bahan pangan. Konsumsi terus-menerus makanan yang mengandung tawas atau aditif kimia tidak layak bisa memicu gangguan ginjal, hati, hingga risiko penurunan fungsi otak.

Saat awak media menemui beberapa warga dan pedagang di sekitar lokasi penggerebekan. Seorang ketua RT menyebut bahwa kontrakan itu sudah ada di kompleks sejak sekitar lima tahun lalu, dengan penghuni sering ganti. Tidak pernah ada tanda-tanda aktivitas produksi makanan besar-besaran. Warga mengaku terkejut ketika tahu rumah biasa bisa jadi “pabrik gelap”.

SalahSatu pedagang pasar tradisional yang dulu sempat menjual mie “Wayang” karena harga murah dan permintaan tinggi tidak ingin namanya disebutkan mengaku menyesal. “Waktu jual, kita nggak curiga. Yang penting laku, murah, dan pembeli mau,” katanya. Sekarang banyak konsumen mundur, takut produk itu berbahaya.

Polresta Bogor Kota memastikan penyelidikan berlanjut. Distribusi produk Wayang akan ditelusuri hingga ke warung dan pasar yang pernah menjualnya. Seluruh produk yang beredar berpotensi ditarik demi mencegah korban lebih luas.

Dua pekerja yang sudah diamankan menjalani pemeriksaan intensif. Aparat juga memburu pemilik usaha diduga kabur keluar kota setelah mencium kedatangan petugas.