JAKARTA,-ifakta, — Pulau Jawa, dengan padatnya populasi dan pesisir yang panjang, berada dalam bayang-bayang ancaman serius dari tiga zona megathrust yang membentang di selatan pulau. Menurut data ilmuwan dan pengamat gempa, jika satu atau lebih dari zona ini terguncang secara bersamaan, bisa memicu gempa sangat besar — bahkan diperkirakan mencapai magnitudo 9,1 — dan tsunami yang tinggi.
Di Samudra Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmen megathrust utama yang disebut sebagai sumber gempa potensial:
Segmen selatan Jawa Barat–Jawa Tengah (bagian tengah-barat Jawa)
Iklan
Segmen selatan Jawa Timur (bagian timur)
Segmen di dekat Selat Sunda / Banten–Jawa Barat bagian barat daya
Para peneliti memperingatkan bahwa tiga segmen ini bisa berpotensi menjadi satu sumber bencana tunggal: skenario “worst-case” memprediksi gempa besar + tsunami yang dampaknya bisa sangat masif.
Sistem lempeng tektonik: Pulau Jawa berada di zona konvergensi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua, menciptakan zona “subduksi” yang kita kenal sebagai megathrust — area dengan potensi energi besar yang tertahan bertahun-tahun.
Potensi gempa sangat besar: Studi geologi menunjukkan bahwa jika segmen barat dan timur megathrust selatan Jawa runtuh sekaligus, bisa menghasilkan gempa hingga M 9,1.
Risiko tsunami: Berdasarkan simulasi tsunami, gelombang tsunami bisa mencapai tinggi 20 meter terutama di daerah pesisir selatan—tergantung kedalaman, panjang patahan, serta kondisi dasar laut sekitar.
“Celah seismik” yang belum “meletus”: Beberapa segmen di selatan Jawa telah lama “diam”, tanpa gempa besar tercatat dalam kurun waktu puluhan hingga ratusan tahun — yang dalam dunia geologi sering disebut sebagai seismic gap. Artinya, energi tektonik bisa sudah sangat menumpuk.
Karena itu, menurut para pakar, bukan soal “kalau” — melainkan “kapan” megathrust bisa meletus.
Sejumlah pakar dan lembaga geologi telah memperingatkan ancaman serius yang bisa sewaktu-waktu menghantam pesisir selatan Pulau Jawa. Zona subduksi — tempat pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Sunda — menciptakan kondisi rawan gempa besar yang disebut megathrust.
Menurut data terbaru, ada beberapa segmen megathrust di selatan Jawa yang masuk dalam catatan pemantauan aktif. Bila salah satu segmen aktif itu runtuh, skenario terburuk bisa memicu gempa besar bahkan potensi tsunami dengan gelombang tinggi di pesisir selatan.
Hasil studi menunjukkan: tsunami akibat megathrust di pesisir selatan Jawa berpeluang menghasilkan gelombang hingga 30–34 meter di titik tertentu — terutama kawasan barat-selatan dan selatan barat Pulau Jawa.
Dengan populasi pesisir yang semakin padat dan pembangunan pesat di banyak daerah selatan (perumahan, jalur transportasi, pariwisata), potensi kerugian manusia dan materi saat bencana terjadi bisa sangat besar.
Pemerintah daerah & otoritas setempat perlu memperbarui peta bahaya & jalur evakuasi, sesuai hasil pemetaan megathrust terbaru.
Rutin melakukan sosialisasi & edukasi bencana kepada masyarakat pesisir — khususnya anak muda dan pekerja harian/pesisir.
Warga pesisir dianjurkan punya “tas darurat”: dokumen penting, air minum, makanan ringan, senter, radio, dan telepon — mudah dijangkau kalau harus evakuasi mendadak.
Simulasi evakuasi dan sistem peringatan dini harus diuji secara berkala — bukan hanya di kota besar, tapi ke kampung-kampung pesisir.
Pengembangan infrastruktur di zona merah harus memperhatikan standard tahan gempa & tsunami — minimal jalur evakuasi dan bangunan aman.
Estimasi Populasi & Risiko — Ancaman Megathrust di Selatan Jawa
1) Populasi Pulau Jawa (angka dasar)
Jumlah penduduk Pulau Jawa diperkirakan 156.927.804 jiwa (mid-2024).
2) Perkiraan populasi pesisir (asumsi berbasis literatur)
Studi dan tinjauan menyebut negara Indonesia ~60% penduduknya tinggal di wilayah pesisir/daerah pantai (angka ini sering dipakai sebagai proksi untuk “populasi pesisir”). Jika kita pakai proporsi itu ke Pulau Jawa, maka:
156.927.804 × 60% = 94.156.682 jiwa diperkirakan tinggal di wilayah pesisir Jawa (perkiraan kasar, bukan hitungan administratif rinci).
Catatan metodologis: angka 60% adalah proporsi nasional yang digunakan sebagai proksi — distribusi populasi pesisir antar-provinsi tidak sama. Angka 94 juta adalah estimasi kasar untuk memberi gambaran skala eksposur.
3) Perkiraan populasi “berisiko tinggi” di pesisir selatan Jawa
Pesisir selatan Jawa (garis pantai dari Banten bagian selatan → Jawa Barat selatan → Jawa Tengah selatan → DIY → Jawa Timur selatan) menampung konsentrasi pemukiman, kota pelabuhan, dan kawasan pariwisata. Tidak semua 94 juta di atas langsung terkena dampak tsunami — jadi kita pakai rentang asumsi konservatif:
Skala kecil-menengah (zona pantai langsung & banjir muara): 10–20% dari populasi pesisir → 9,4 juta – 18,8 juta jiwa berisiko tinggi terpapar langsung saat tsunami besar.
Skala luas (termasuk daerah muara, dataran rendah, dan penempatan padat di koridor pesisir): 20–35% → 18,8 juta – 32,9 juta jiwa berpotensi terdampak (inundasi, pengungsian, gangguan layanan).
Kenapa rentang besar: distribusi penduduk pesisir tidak merata; beberapa kabupaten pesisir sangat padat, beberapa lainnya tipis. Rentang ini lebih baik daripada klaim angka tunggal yang memberi kesan kepastian palsu.
4) Potensi magnitudo & tinggi tsunami — bukti ilmiah
Studi pemodelan memproyeksikan potensi tsunami dari segmen megathrust selatan Jawa mencapai gelombang puluhan meter (contoh 20–34 meter) di titik tertentu tergantung skenario patahan. Ini jelas menyiratkan dampak massif di daerah pantai rendah.
5) Estimasi korban & kerugian ekonomi — contoh skenario terukur (dengan catatan)
Skenario lokal (megathrust segmen terbatas, dampak lokal): studi kasus wisata menunjukkan kerugian ratusan miliar rupiah untuk area terbatas (contoh: penelitian memperkirakan kerugian ~Rp208,79 miliar untuk satu kawasan wisata yang terdampak). Ini gambaran skala ekonomi lokal.
Skenario sistemik (worst-case) — megathrust besar (mis. Mw 9+ yang memengaruhi panjang segmen selatan Jawa sekaligus):
Korban jiwa: sulit dipastikan tanpa model paparan terperinci. Namun, bila melihat kejadian megathrust/tsunami historis berskala besar dan mengingat kepadatan penduduk pesisir Jawa, korban bisa ribuan hingga puluhan ribu di zona terdampak langsung jika evakuasi/persiapan minim.
Kerugian ekonomi: bisa triliunan rupiah, melibatkan kerusakan infrastruktur, pelabuhan, pariwisata, perumahan, dan gangguan logistik nasional.
Penting: angka korban di atas adalah estimasi rentang berbasis paparan penduduk + intensitas peristiwa; untuk angka kuantitatif valid diperlukan model risiko end-to-end (hazard → inundation → exposure → vulnerability → loss) seperti yang dilakukan dalam studi-studi ilmiah dan laporan risiko.
6) Bukti ilmiah soal “seismic gap” dan urgensi mitigasi
Penelitian dan ringkasan BRIN/BMKG menegaskan adanya “seismic gap” di selatan Jawa — segmen yang relatif lama tenang tapi menyimpan energi tektonik. Artinya ancaman megathrust nyata dan kesiapsiagaan harus ditingkatkan sekarang, bukan ditunda.
