JAKARTA, Ifakta.co – Gelombang banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera memicu sorotan tajam terhadap praktik perusakan hutan dan lemahnya pengawasan tata kelola kawasan konservasi. Sejumlah organisasi lingkungan menegaskan bahwa bencana berulang ini tidak bisa lagi dianggap sebagai peristiwa alam semata, melainkan akumulasi dari kebijakan dan pembiaran yang merusak ekosistem selama bertahun-tahun.
Banjir besar yang merendam permukiman dan merusak infrastruktur terjadi di kawasan yang dalam dua dekade terakhir mengalami penyusutan hutan secara masif. Di berbagai titik, lahan gambut dan hutan tropis berubah menjadi perkebunan skala besar, mengubah bentang alam dan memutus ruang jelajah satwa liar, termasuk gajah Sumatera.
Gajah Terdesak, Hutan Terbabat
Iklan
Di sejumlah kasus, termasuk kawasan Tesso Nilo dan Telo Niso, tragedi ekologis tampak jelas. Hutan yang semestinya menjadi benteng alami dari banjir justru berkurang secara drastis akibat pembukaan lahan ilegal. Ketika habitat menyusut, gajah dipaksa keluar ke area permukiman. Konflik pun meningkat, mulai dari gajah yang diracun hingga jerat liar yang merenggut nyawa satwa dilindungi itu.
Organisasi konservasi menyebut situasi ini sebagai “siklus kerusakan yang saling terkait” hutan hilang, satwa liar tersingkir, tanah kehilangan daya serap, dan banjir menjadi tak terhindarkan.
Jejak Kebijakan dan Tata Kelola
Dalam berbagai laporan investigatif, pembukaan lahan masif di sekitar kawasan konservasi dikaitkan dengan lemahnya pengawasan serta maraknya aktivitas perkebunan ilegal. Dokumentasi lapangan menunjukkan adanya ekspansi kebun di zona yang seharusnya dilindungi. Di sisi lain, sebagian masyarakat lokal masuk ke rantai aktivitas ilegal karena tidak memiliki alternatif mata pencaharian.
Para pengamat menilai masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan tata kelola perizinan, pengawasan, dan kepentingan ekonomi yang tumpang tindih. Bencana pun kerap dibingkai sebagai faktor cuaca ekstrem, sementara akar persoalan ekologis kurang mendapat sorotan.
Bencana yang Bisa Dicegah
Sumatera dikenal sebagai salah satu benteng hutan hujan tropis tersisa di Asia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hilangnya tutupan hutan memperbesar risiko banjir, longsor, dan kabut asap. Pakar lingkungan menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi akan terus meningkat jika pola pengelolaan lahan tidak berubah.
“Ini bukan kemarahan alam. Ini akibat keputusan manusia,” ujar seorang peneliti konservasi yang enggan disebut namanya. Menurutnya, banjir terbaru seharusnya menjadi alarm kuat bahwa kerusakan ekosistem telah mencapai titik kritis.
Peringatan untuk Masa Depan
Berbagai lembaga mendesak pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum, menertibkan perkebunan ilegal, memulihkan kawasan hutan, serta memberikan alternatif ekonomi bagi masyarakat lokal. Tanpa langkah struktural, banjir di Sumatera diprediksi akan terus berulang dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Banjir yang terjadi hari ini bukan sekadar musibah, tetapi refleksi dari kesalahan tata kelola yang berlangsung lama. Dan jika tidak ada perubahan mendasar, bencana berikutnya seperti peringatan banyak pakar“ bukan soal apakah terjadi, tetapi kapan.” (FA)



