JAKARTA,- ifakta., — Tidak setiap hari dunia melihat dua pemimpin negara menyaksikan operasi militer yang digelar layaknya misi sungguhan. Presiden Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II bin Al-Hussein berdiri di tepi arena latihan di Amman, menatap langsung bagaimana pasukan elite TNI dan Angkatan Bersenjata Yordania menyelesaikan skenario kontraekstremisme tingkat tinggi.

Lapangan latihan berubah seperti zona operasi nyata. Tim khusus bergerak cepat, menembus titik rawan, mengamankan sandera, sementara drone taktis melayang rendah mengunci sasaran. Semuanya berjalan simultan, presisi, tanpa ruang error. Bagi pengamat yang melihat dari luar pagar, ini bukan sekadar unjuk kekuatan. Ini demonstrasi kesiapan strategis.

Prabowo terlihat serius, sesekali berdiskusi pendek dengan Raja Abdullah II yang memang memiliki reputasi kuat dalam operasi keamanan regional. Interaksi keduanya menunjukkan kenyamanan politik, kedekatan visi, dan arah kebijakan yang makin sinkron. Bahasa tubuhnya menyampaikan pesan yang bahkan tak perlu diterjemahkan: Indonesia dan Yordania sedang naikkan kelas hubungan mereka.

Iklan

Latihan gabungan ini makin memperjelas bahwa kolaborasi Jakarta–Amman bukan rangkaian diplomasi basa-basi. Di balik panggung latihan, ada fondasi strategis yang sedang dirangkai: pertukaran teknologi drone, peningkatan interoperabilitas pasukan khusus, dan mekanisme kerja sama intelijen untuk menghadapi ancaman yang bergerak cepat.

Pengamat hubungan internasional menilai penguatan ini tepat waktu. Dunia lagi masuk fase turbulensi baru: radikalisme yang berubah bentuk, konflik regional yang mudah menyebar, sampai ancaman asimetris yang tidak lagi punya batas negara. Dalam situasi seperti itu, Indonesia butuh mitra kredibel di Timur Tengah, dan Yordania butuh mitra besar yang stabil dari Asia. Keduanya bertemu dalam titik yang sama.

Dengan demonstrasi ini, hubungan Indonesia–Yordania memperlihatkan arah baru: tidak hanya kokoh, tapi semakin strategis dan bernilai jangka panjang