SEMARANG, ifakta.co – Klenteng Sam Poo Kong merupakan salah satu situs bersejarah sekaligus tempat ibadah yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah. Klenteng ini memiliki nilai budaya, religi, sekaligus historis yang kuat karena berkaitan dengan perjalanan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah Muslim asal Tiongkok pada abad ke-15.

Menurut catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat, Laksamana Cheng Ho atau Zheng He memimpin armada besar dari Dinasti Ming dalam rangka ekspedisi ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Pada sekitar tahun 1405, salah satu kapalnya singgah di pesisir Semarang karena sang laksamana mengalami sakit.

Dalam masa peristirahatannya, Cheng Ho beserta awak kapal mencari tempat untuk berteduh. Mereka menemukan sebuah gua batu yang kemudian dijadikan lokasi beristirahat sekaligus tempat sembahyang. Gua inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Klenteng Sam Poo Kong. Nama “Sam Poo Kong” sendiri berarti “gua tiga orang suci” atau merujuk pada Laksamana Cheng Ho yang sering disebut Sam Poo Tay Djien.

Iklan

Seiring waktu, tempat peristirahatan itu berubah menjadi tempat pemujaan dan penghormatan terhadap Cheng Ho. Masyarakat Tionghoa maupun pribumi menganggap Cheng Ho sebagai sosok yang membawa berkah dan kedamaian. Oleh karena itu, sebuah klenteng kemudian dibangun di sekitar gua tersebut.

Bangunan klenteng bercorak arsitektur khas Tiongkok, dengan dominasi warna merah dan atap melengkung. Selain gua batu yang dianggap sakral, kompleks Sam Poo Kong kini terdiri dari beberapa altar, paviliun, serta patung besar Laksamana Cheng Ho yang berdiri megah.

Yang menarik, meskipun berasal dari tradisi Tionghoa, Klenteng Sam Poo Kong tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Konghucu atau Buddha saja. Banyak umat Islam dan masyarakat umum juga menghormati tempat ini, karena Cheng Ho sendiri adalah seorang Muslim. Akulturasi budaya Jawa dan Tiongkok pun terlihat jelas dalam ritual maupun perayaan yang digelar di klenteng ini.

Setiap tahun, masyarakat Semarang menggelar kirab budaya untuk memperingati kedatangan Cheng Ho. Acara ini menampilkan berbagai kesenian tradisional Jawa maupun Tionghoa, sekaligus menjadi simbol kerukunan antarumat beragama dan etnis di Indonesia.

Kini, Klenteng Sam Poo Kong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan budaya. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk berziarah, bersembahyang, maupun sekadar menikmati keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya.

Sebagai warisan budaya yang berusia lebih dari 600 tahun, Klenteng Sam Poo Kong menjadi bukti nyata hubungan erat antara Tiongkok dan Nusantara sejak zaman dahulu, sekaligus lambang keberagaman yang menyatu dalam masyarakat Indonesia.(Jo)