JAKARTA, ifakta.co – Sebagian besar mata uang Asia bergerak dalam kisaran sempit pada perdagangan hari Selasa, 5 Juli 2025, seiring investor bersikap hati-hati menjelang rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan China yang diperkirakan akan memberikan arah lebih jelas terkait prospek kebijakan moneter global.
Mata uang seperti rupiah Indonesia, baht Thailand, dan ringgit Malaysia hanya mencatatkan perubahan tipis terhadap dolar AS, sementara won Korea Selatan dan dolar Taiwan juga nyaris tidak bergerak signifikan. Volume perdagangan juga relatif tipis, dipengaruhi oleh minimnya sentimen baru serta menantinya data inflasi AS yang dijadwalkan minggu ini.
Sementara itu, yuan China diperdagangkan mendekati level terendah dalam beberapa pekan terakhir, dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik. Para analis mencermati dengan seksama perkembangan stimulus tambahan dari Beijing yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar keuangan regional.
Iklan
Di sisi lain, yen Jepang tetap berada di kisaran lemah, mendekati level psikologis 162 per dolar AS. Spekulasi mengenai potensi intervensi otoritas Jepang kembali mencuat, namun belum ada sinyal kuat dari Kementerian Keuangan atau Bank of Japan.
Para pelaku pasar kini fokus pada data non-farm payroll dan inflasi konsumen AS, yang dapat menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi AS, hal itu bisa memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih awal, yang berpotensi melemahkan dolar dan memperkuat mata uang Asia.
Secara keseluruhan, sikap wait and see masih mendominasi pasar keuangan Asia, dengan investor menghindari posisi besar sambil menantikan petunjuk arah ekonomi global lebih lanjut.(SB)