JAKARTA, ifakta.co – Di tengah derasnya arus modernisasi dan eksploitasi alam, sosok Romli hadir sebagai oase yang menyejukkan. Ia bukan sekadar pecinta alam biasa, namun seorang aktivis yang gigih memperjuangkan kelestarian lingkungan. Semangatnya dalam menjelajahi hutan, mendaki gunung, hingga membersihkan sungai, seolah menjadi satu dengan napas alam yang ia cintai.
Romli dikenal luas di kalangan komunitas pecinta alam sebagai sosok yang rendah hati, namun teguh dalam prinsip. Ia kerap menggelar ekspedisi lintas alam dengan misi edukasi, menanam pohon, dan menyosialisasikan pentingnya menjaga ekosistem. Baginya, mencintai alam bukan hanya tentang menikmati keindahannya, tapi juga melindunginya dari kerusakan.
Perjalanan Romli dimulai sejak masa remaja, saat ia pertama kali mendaki gunung bersama teman-temannya. Dari pengalaman itu, ia menemukan kedamaian sekaligus panggilan hidupnya: menjadi penjaga alam. Ia pun mulai aktif dalam berbagai kampanye lingkungan, dari aksi bersih pantai, penanaman mangrove, hingga advokasi pelestarian hutan adat.
Iklan
Meski sering berhadapan dengan tantangan dan tekanan, Romli tak gentar. Ia percaya bahwa masa depan bumi terletak pada kesadaran kolektif manusia untuk menjaga alam. Melalui media sosial, seminar, dan kegiatan outdoor, ia terus menginspirasi generasi muda agar mencintai alam dengan tindakan nyata.
Kini, Romli bukan hanya simbol kecintaan terhadap alam, tetapi juga bukti nyata bahwa satu orang bisa memberi dampak besar bagi lingkungan. Dalam setiap langkahnya, hutan, gunung, dan sungai bukan hanya latar petualangan—melainkan sahabat yang harus dijaga. Romli mengajarkan kita bahwa mencintai alam adalah tentang kembali ke akar, merawat bumi sebagai rumah bersama. (Red)