JAKARTA, ifakta.co – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9).

Pezeshkian mengatakan tekanan, sanksi, dan intimidasi dari Washington justru akan meningkatkan perlawanan rakyat Iran. Ia menegaskan Teheran tidak akan menundukkan kepala atau bertekuk lutut kepada Amerika Serikat.

“(Presiden Donald Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,” katanya saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9) dikutip Arab News.

Iklan

Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyinggung kondisi Selat Hormuz. Ia menyatakan Iran tidak akan membiarkan jalur perairan strategis tersebut digunakan untuk melakukan agresi terhadap negaranya.

Selat Hormuz disebut telah mengalami pemblokiran secara berkala sejak awal perang. Kondisi tersebut turut disebut berdampak terhadap kenaikan harga energi global.

“Kita tidak bisa membiarkan sebagian orang memiliki akses bebas dan memperkuat kepentingan mereka dari jalur air ini, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk melakukan agresi terhadap kita,” katanya.

Pezeshkian juga melontarkan tudingan keras terhadap Washington terkait kematian mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal perang.

Presiden Iran tersebut menyebut rakyat Iran menjadi korban terorisme yang dilakukan Amerika Serikat. Dalam pidatonya, ia turut mengangkat foto besar Ali Khamenei serta lebih dari 150 anak sekolah Iran yang disebut tewas pada hari-hari pertama perang.

“Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris,” kata Pezeshkian.

Ia kemudian menegaskan bahwa serangan terhadap Iran membuat negaranya mengambil langkah untuk mempertahankan diri.

“Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan dan agresi pengecut yang dilakukan terhadap negara kami. Dan kami membela diri dengan sekuat tenaga. Amerika dan Israel menyerang kami.”

Kehadiran Pezeshkian dalam agenda diplomatik utama PBB di Manhattan sebelumnya sempat menjadi perhatian. Pasalnya, belum ada kepastian mengenai keputusan Amerika Serikat terkait visa bagi Presiden Iran tersebut.

Pada akhirnya, Washington memberikan izin kepada Pezeshkian untuk menghadiri agenda tersebut. Namun, Amerika Serikat disebut menolak visa bagi beberapa anggota rombongan Presiden Iran.

Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan materi yang diberikan. Klaim terkait konflik, korban, kematian tokoh, dan kebijakan visa tidak diverifikasi secara independen dalam jawaban ini.

(faz/fza)

Iklan