JAKARTA, ifakta.co – Sejumlah lurah di DKI Jakarta menunjukkan antusiasme dalam mengikuti Benyamin S Award (BSA) 2026. Mereka menyiapkan berbagai program dan inovasi untuk menghadapi penilaian lapangan yang dilakukan tim juri.

Penilaian tersebut menyasar kelurahan yang masuk dalam kategori bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Para lurah bersama warga ikut mempersiapkan wilayah masing-masing sebelum tim juri melakukan penilaian.

Lurah Kebon Sirih Henny Mahroja mengatakan persiapan menghadapi penilaian BSA tidak mudah. Menurutnya, pemerintah kelurahan harus membangun kesamaan pemahaman dengan masyarakat.

Iklan

“Kami harus menyamakan persepsi antara pemerintah dan juga warga,” kata Henny, Selasa (30/9) saat penilaian.

Henny menjelaskan, warga Kebon Sirih telah membangun koordinasi dan kolaborasi untuk mendukung pelaksanaan penilaian. Kerja sama tersebut membuat seluruh rangkaian persiapan dapat berjalan dengan lancar.

Sementara itu, Lurah Lagoa Yuyun Wahyudi mengatakan wilayahnya mengikuti penilaian pada dua kategori, yakni bersih dan nyaman.

Salah satu program yang menjadi perhatian berada di RW 6. Wilayah tersebut memiliki bank sampah dan menjalankan kegiatan pemilahan sampah secara rutin bersama warga.

“Bersihnya di wilayah RW 6. RW 6 ini ada bank sampah dan ada kegiatan rutin pemilahan sampah di wilayah warganya, sehingga kalau di RW 6 ini sampah tuh jadi rezeki ya, jadi berkah,” kata Yuyun.

Antusiasme serupa disampaikan Lurah Utan Kayu Selatan Ria Handayani. Ia optimistis wilayahnya dapat meraih penghargaan dalam BSA 2026.

Menurut Ria, persiapan perlombaan melibatkan berbagai unsur masyarakat. RT, RW, LMK, serta unsur seni dan budaya ikut bekerja sama dalam menyiapkan wilayah.

“Berkat kerja sama kita semua, RT, RW, LMK. semua seni budaya kita semua bekerja sama untuk mempersiapkan pelaksanaan perlombaan BSA di tahun 2026 ini,” katanya.

Ria berharap seluruh proses yang dilakukan tidak hanya menghasilkan penghargaan. Ia juga ingin persiapan BSA mendorong kemajuan wilayah Utan Kayu Selatan.

“Semoga hasilnya dapat membangun wilayah Kelurahan Hutan Kayu Selatan ini lebih maju lagi,” imbuh Ria.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar Benyamin S Award sebagai ajang apresiasi bagi kelurahan yang memiliki program terbaik. Setelah melewati tahap verifikasi secara daring, seleksi berlanjut melalui penilaian langsung oleh tim juri.

Sebanyak 27 kelurahan yang lolos seleksi mendapatkan penilaian lapangan. Tim juri menilai potensi serta inovasi masing-masing wilayah berdasarkan kategori yang diikuti.

Kedatangan tim juri ke sejumlah kelurahan juga disambut pertunjukan musik tradisional serta kesenian dan budaya Betawi. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kemeriahan pelaksanaan BSA 2026.

Nama Benyamin S Award diambil dari sosok seniman legendaris Betawi, Benyamin Sueb. Nama tersebut menjadi akronim dari empat kategori utama, yakni Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera.

Empat kategori tersebut menjadi dasar penilaian tim juri dalam menentukan kelurahan terbaik di Jakarta. Tim penilai terdiri dari staf ahli gubernur serta sejumlah ahli dari organisasi perangkat daerah.

Sedikitnya 27 kelurahan dari lima wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu dinilai berdasarkan potensi dan inovasi yang mereka miliki.

Pengamat tata kota sekaligus salah satu juri Benyamin S Award, Nirwono Yoga, menjelaskan terdapat empat aspek utama yang menjadi perhatian dalam penilaian.

Menurut Nirwono, aspek pertama berkaitan dengan kebersihan wilayah. Kelurahan harus menunjukkan upaya menjaga lingkungan agar terbebas dari sampah.

“Aspek kedua adalah kelurahan yang nyaman. Bagaimana upaya dari setiap lurah untuk membebaskan kelurahannya dari kawasan kumuh maupun juga BABS (buang air besar sembarangan),” katanya.

Penilaian berikutnya menyangkut potensi ruang terbuka hijau. Tim juri melihat peluang pengembangan ruang terbuka hijau menjadi taman di tengah kawasan perkotaan yang padat.

Selain lingkungan, aspek seni, budaya, dan kuliner juga menjadi bagian dari penilaian. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi daya tarik dan destinasi wisata di tingkat kelurahan.

“Tentu yang menarik lagi adalah munculnya potensi-potensi seperti seni budaya, terus kemudian ada kuliner yang bisa jadi harapan destinasi wisata di kelurahan tersebut,” kata Nirwono.

(mam/wal)

Iklan